Riset, Artikel Ilmiah Tapi Bukan Saja Tidak Bermutu Bahkan Redundan...

Karena sekarang banyak waktu di rumah ane sempatkan juga tengok2 artikel katanya ilmiah tentang ilmu pendidikan formal ane bahasa Indonesia. Dan hasilnya....(sengaja pakai konjungsi 'dan' di awal kalimat ini yaaaa) memang masih mengecewakan. Saya termasuk yang tidak setuju kebijakan terbaru pemerintah yang mengutamakan bidang ilmu STEM karena alasan filosofis tapi bisa memaklumi untuk alasan praktis, tapi pengalaman saya bertahun di bidang non-STEM ini (dulu) dan masih saya lihat sampai sekarang begini membuat saya sulit untuk tidak setuju dengan itu. Bukan soal kepraktisan STEM untuk kontribusi sosial ekonomi tapi ilmiah non-STEM ini memang bermasalah..... setidaknya riset ilmiah non-STEM di Indonesia dan setidaknya bidang humaniora. Salah satu karya ilmiah sampah itu adalah skripsi saya sendiri, oke hahahahaha. 

Mungkin karena stress nganggur atau memang niat banget berkarir di disiplin ilmu S1 saya, setelah hampir 10 tahun lulus S1 dan ijazahnya tidak berguna saya mendaftar juga program S2 dan hanya bertahan 1 semester. Saya melihat hanya akan melakukan hal yg sama, melalukan riset2 an sampah.... Contoh sampah itu selain skripsi saya dulu ya ini Indonesian language policy and perspectives on its implementation in promoting Bahasa Indonesia as an international language. Kenapa saya sebut sampah? Ya baca sendiri dan jujurlah hehehehe. Mungkin gw dianggap punya ekspektasi terlalu tinggi bahwa artikel atau penelitian ilmiah itu harus menghasilkan temuan yg wah spt bidang ilmu eksakta, entah partikel tuhan atau penyatuan fisika klasik dan mekanika kuantum melalui pembuktian gravoton bukan hanya matematika string theory misalnya. Tidak, tidak harus se-wow itu koq.... tapi bagiku tetap namanya artikel ilmiah penelitian itu harus menemukan sesuatu lah walau hanya level B aja.

Pandangan defensif dan permisif mungkin akan mengatakan bahwa riset tdk harus selalu ttg novelty/kebaruan, terutama jenjang pendidikan dibawah doktoral. Tapi menurut pendapat sy klo tdk ada penemuan tidak usah dinamakan riset tapi rangkuman saja lah atau sinopsis spt yg akan anda lihat pd riset yg saya lampirkan itu dan umumnya riset2 humaniora termasuk skripsi saya. Mereka (dan saya juga dulu) hanya mencomot kutipan sana-sini, mencocok-cocokkan, dan menghasilkan 'temuan' yg tanpa kutip sana-sini itu juga akan sama saja.... Anda mungkin akan perlu argumentasi geometris utk membuktikan bumi bulat tapi untuk mengatakan bahwa bahasa Indonesia utk asing itu perlu diajarkan dgn serangkaian aturan pemerintah dan hasil kongres ilmiah? Bagi saya ini bukan riset tapi sinopsis dan memanjang2 kan masalah, hahahaha. Dan ini karakter umum studi humaniora--mungkin juga bidang ilmu non-eksak lainnya--sangat formalis dan normatif saja yg bagi saya adalah redundan.

Saya jadi ingat salah satu buku terburuk yg pernah saya baca yaitu pengantar kajian sastra oleh satu2 nya profesor di jurusan saya waktu S1. Ibuk itu adalah ahli aksara jawa kuna tapi ketika menulis ttg sastra modern ia tak kompeten, Dia saya lihat ia tak lebih tukang terjemah... (yang buruk bahkan). Beliau tidak punya pikiran sendiri, hanya tukang sambung2 kan kutipan dari sana-sini. Saya tdk menyerang personal, saya pernah hidup bersama mereka dan saya bisa memahami juga kalau menyangkut pekerjaan orang akan sangat pragmatis, Saya tukang ojek bertahun2. Saya juga sangat pragmatis dalam mencari uang tanpa digaji negara. Ketika heboh tentang para pemburu dana hibah untuk konferensi dan riset atau gunjingan tentang jurnal2 abal2--bahkan dalam bidang ilmu eksakta--saya juga tidak terlalu kaget. Saya maklum di dunia pragmatis dan praktis itu inevitable. Tapi tetap di tataran ideal norma spt begini harus dikritisi dan dicemooh, termasuk budaya me-review tapi koq saling bantu wkwkwk (baa lay nyo bakawan tu saliang butuh loo); koq ka berang, berang lah.....ngohahahaa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banana Wars

Dari Badaceh, Hingga ke Jimek

SBY, Demokrasi Pragmatis Politik Kita