Untuk Langit, Adenlhasd, dan Dhija Em Bagian 3

Umur tdk ada yg tahu tapi utk antisipasi jk Ayah meninggal terlalu cepat kusempatkan jg terus melengkapi hal2 mengenai ini. Ayah sangat berharap dan memohon dan berekspektasi kpd tuhan atau entitas mahaapapun yg sebenarnya bersemayam "di atas" sana agar diberi cukup usia hingga kalian anak2 ku sudah cukup umur jg utk mandiri secara ekonomi dan tdk tergantung pd siapapun termasuk Mak kalian. Baru sj kusempatkan browsing sebentar ttg "agama" Mak kalian krn lupa nama sekte ini sebelum bertransformasi manjadi jaringan bisnis Global Ikhwan. Darul Arqam Malaysia ya itulah namanya silakan kalian pelajari jk ada waktu. Ayah bahkan cukup terkejut jg ternyata baru 2 tahun yg lalu--artinya Adenlhasd sudah berumur 2 tahun dan sekitar waktu itu kita berempat klo Ayah tdk salah ingat (Dhija belum ada) mengunjungi "Uminya" Mak kalian itu di Subangek--sekte yg divonis sesat di Malaysia dan Indonesia ini terlibat kasus seksual termasuk sodomi anak. Terlepas dr fakta sebenarnya (tdk seburuk itu atau malah lebih buruk lagi), Ayah jd ingat antusiasme Mak kalian utk memasukkan anak2 nya (kalian) ke sistem pendidikan agama sekte ini. Sekte tasawuf satu ini memang menggabungkan anak2 mereka di satu tempat agar org tua mereka bs fokus mengurus jaringan bisnis mereka yg memang multinasional. Ya tasawuf "matre" wkwkkwk, jd kalian bs memahami sikit lah ya knp Mak kalian dgn latarnya yg keluarga miskin dan awam agama bs terpikat kpd kelompok ini.

Beda umur hampir 10 tahun dgn Mak kalian dan kondisi kesehatan yg makin buruk membuat q takut jg tdk sempat bercerita banyak kpd kalian. Apa boleh buat, mungkin hanya lewat medium tulisan ini Ayah bs bercerita kpd kalian ketika sudah dewasa dan bs memahaminya. Baru beberapa hari lalu terjadi Ayah hanya bs melihat Uda Langit 5 tahun keluar air matanya mendengar Ayah tak bs menahan diri menyebut Mak kalian, "setan sadang mangaji." "Kenapa setan bs mengaji Ayah? tanyanya. "Bagaimana Ayah harus menjelaskan nak.... Waktu itu Bang Adenlhasd sedang meraung kesakitan krn taantuak sesuatu dan Mak kalian--pengikut sekte Darul Arqam keparat ini--santay sj terus mengaji seolah tak peduli anaknya sedang meraung dlm derita. Memang ia agak budeg sedikit, tapi ini sebetulnya bercampur dgn kemungkinan ia memang tdk terlalu peduli juga (mungkin ia denger tp krn ada Ayah ia santay aja lah). (Dan kekurangpeduliannya ini terkait pula secara bawah sadar dgn fakta ia tak bs morotin Ayah secara ekonomi sbgmana yg jd motif utamanya utk berumahtangga dgn q {atas sadarnya menyadari klo sejak awal Ayah sudah mewanti2 tdk bs diporoti}, percayalah jk Ayah bs jd "donatur" bagi keluarganya yg hidup miskin di kampung sana keadaan berubah total). Kadang Ayah melihat "aktingnya" yg terlihat overrrated pula menanggapi anak2 nya yg sdg tertimpa sesuatu. Sangat tdk natural. Biaso se lah... ndak kadang terlalu wah kadang ndak peduli samo sakali lo. Tapi memang begitulah karakter urang biaso nipu, teknik survival pansos yg berusaha masuk ke lingkaran org berpunya. Ok

#####lapor ketua: laptop padam krn baterai habis, ok kt lanjutkan sikit layi, mungkin ada ketikan yg ndk ter-save tadi#####

Diluar desakan usia yg segera tua sehingga gak sempat meneliti Mak kalian lebih jauh, Ayah sebetulnya jg tdk terlalu memersoalkan faktor agama2 an ini (termasuk soal ia cenderung ke golongan religi mana). Yang--yo den pakai yang di awal kalimat tu baa dek ang (utk para polisi bahasa)--penting buat Ayah hal2 substansial sudah disampaikan dan ia--setengah pura2 dan satangah ndk paham iyo lo--sudah menyetujui. Soal ia terafiliasi ke Global Ikhawan a.k.a Darul Arqam ini jg baru setelah menikah Ayah ketahui dan jg awalnya tdk terlalu Ayah masalahkan. Tapi kini baru terasa oleh q paduan antara sifat materialistis terselubung dan paham agama antahlah e ko sangat sangattt menghancurkan keluarga kita. Ia ingin keluarga kita jd subordinat keluarganya. Ia bodoh dan ingin kt mengikuti kebodohan itu. Matre bagiku ialah ia "ingin" ortunya mendapatkan harta ortuku sementara matre bagi dia adalah jk ortuku tdk memberikan harta kpd ortunya, saling oposite malahan nah wkwkwkwk. Ini sebetulnya bs didiskusikan dan dikomunikasikan--btw Mak kalian itu sarjana ilmu komunikasi lho, jd wajar pintar bersandiwara, wkwkwkwk--tapi akibatnya pernah terjadi ia tinggalkan Uda Langit waktu masih berumur 1 tahun. Dan seandainya Ayah saat itu juga bercerai dgnnya Bang Adenlhasd akan besar terpisah, Dik Dhija tdk akan pernah ada. Dan inilah yg paliang aman bs Ayah lakukan berkomunikasi dgn kalian jk sudah besar nanti lewat tulisan ini. Oh ya, mumpung ingat salah satu amalan sekte ini yg lagi kambuh akhir2 ini Mak kalian amalkan adalah mandi tengah malam terus sholat tahajud versi kelompoknya. Ayah tentu sj hanya bs mendiamkannya. Oh ya lagi mumpung ingat lagi rasanya belum pernah Ayah tuliskan, sampai saat ini ia sholat beda arah kiblat dgn Ayah sedikit. Ia tak percaya arah yg Ayah tunjukkan. Sebabnya menurut Ayah ada 2: pertama, ia mengira2 sendiri dgn maagak2 arah masjid yg agak jauh dr sini dan kedua (ini yg terkuat) ia mencontoh adik2nya yg pakai ilmu maagak2 jg tentunya atau salah dengar waktu pernah ditunjukkan arah yg benar. Klo menurut agak2 Ayah Mak kalian itu disni sholatnya mengarah ke Vatikan bukan ke Ka'bah, wkwkwkwk. Ayah waktu dlm suasana bs bercanda pernah mengatakan klo Kristen memberi uang yg cukup banyak kpdnya ia akan pindah agama sebagaimana ia fanatik kpd ajaran Abuyanya di Darul Arqam yg memberinya pekerjaan dan uang utk dikirim ke kampung halaman. Dia terkesima dgn "kebaikan" org2 itu krn tdk punya wawasan psikologi politik ekonomi. Ndk bs dtunjuak an baa lay. Ia sendiri mengakui dirinya bodoh dan ini hanya soal pilihan percaya. Ia lebih percaya pd perkataan adiknya yg baru seminggu di Jawa bahwa jarak Jakarta - Bandung spt Padang ke Medan dibanding perkataanku yg 7 tahun pernah dulu tinggal disana dan sering bolak balik kesana. Padahal menurutku sepele saja, adiknya salah agak atau penyampaian informasi yg kurang lengkap. Tapi sudahlah ini bukan soal salah benar (yg butuh otak) tapi ia percaya yg lain (cukup pakai perasaan) makanya harus kukembalikan Mak kalian ke keluarganya; ia percaya kesana di kolam kebodohannya, org2 sefrekuensi dgnnya, org yg persuasif dgnnya. Komunikasi mereka lebih nyambung; klo Ayah mencoba lagi gawat akibatnya. Apalagi mengingat ia merasa sudah bertemu "kebenaran", merasa cukup dan sudah tdk muat diberi beban pengetahuan lanjutan, dan sebenarnya hanya tinggal mau cari duit menikah dgn Ayah wkwkwkwk. Ok segini dulu.

NB: mumpung ingat, di tempatt kerjanya di Malaysia dulu ia katanya dipanggil cantik oleh teman2 kerjanya dan mungkin sampai kini ia belum sadar bahwa itu adalah olok2.... Otaknya betul2 ndk jalan, jk betul cantik ia tak akan "terjerumus" menikah dgn q krn akan hidup makmur di sekte poligami yg ia ikuti! Ia tak juga sadar bahwa tak ada org kaya yg tertarik dgn dirinya dan ia tak bisa menjual tubuhnya, tak laku wlo mau diboster dgn tahajud tiap malam ataupun puasa hampir tiap hari.... Berat bagi kalian membaca ini anak2 q tapi hanya ini tempat bagiku utk menceritakan dan kt adalah keluarga yg hidup di atas kejujuran. Mak kalian harus Ayah diskualifikasi....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banana Wars

Dari Badaceh, Hingga ke Jimek

SBY, Demokrasi Pragmatis Politik Kita