Postingan

analisis psikoanalisa thd tokoh saaman dalam keluarga gerilya

ASPEK “BAWAH SADAR” PADA TOKOH SAAMAN Dialektika model pendekatan dan landasan teori dalam penelitian teks sastra salah satunya ikut diramaikan oleh kajian Psikoanalisa yang ditelurkan oleh Sigmun Freud. Psikoanalisa sendiri memang bagian dari kajian psikologi manusia dan Freud menggunakannya dalam fungsi sebagai terapi medik. Salah satu penemuan besar Psikoanalisa, yang bisa dilihat gunanya dalam analisis teks sastra, adalah adanya kehidupan tak sadar pada manusia (samakan saja dengan istilah aspek bawah sadar di atas). Freud bahkan menyatakan bahwa segi-segi terpenting perilaku manusia ditentukan oleh alam tak sadarnya. Untuk itu Freud mengemukakan teori tentang struktur kepribadian manusia. Struktur kepribadian manusia tersebut terdiri dari tiga bagian yang tumbuh secara kronologis, yaitu id, ego, dan superego. Id merupakan struktur kepribadian paling primitif dan berhubungan dengan prinsip mencari kesenangan. Ini dapat kita lihat pada fase kanak-kanak seseorang. Id banyak berhubung...

suratcintrong

SURAT `SE-RIOUS` BUAT REKAN-REKANKU `SE-PROPESI` (DALAM-PADA AKHIR PERJALANAN KITA INI) Buat Teh Santy, The, ehtt..teh…(ribeut!). Melihat karya yang nak engkau analisis, (cukup menggugah), akupun jadi ternganga sembari mendesis. Barangkali sama seperti anak-anak yang lain, dengan pengetahuan kami yang minim tentang engkau, akupun berpikir gila! teh Santy mau mengacak-acak kewarasannya bermain-main dengan teror demi teror peristiwa dalam novel Putu. Apalagi yang hendak teteh analisis itu mengenai kejanggalan unsur kejiwaan pada seorang tokoh cerita yang dilabeli titel: “Hasrat Membunuh!”, gila! batin gua sungguh tak menyangka. Dengan beranggapan masih berpikiran waras, saya berpikir bahwa sebaiknya Teh Santy mencari karya lain dan mencari unsur lain lah yang sebaiknya dijadikan bahan penelitiannya. Memang, asumsi sebuah penelitian objektif taklah memperdulikan subjektifitas peneliti dalam memilih-milih objek penelitiannya. Namun kuatnya unsur kapabilitas pribadi dalam meneliti sebuah ob...

bocah

21/9/04 BOCAH Segerombolan bocah bandel yang terlihat lugu itu belepotan air liur di mulut mereka. Berbinar, atau barangkali penuh nafsu, atau barangkali penuh dendam menatap bersama ke arah sebiji-bijinya buah mangga ranum pada sebatang pohon tak berdosa di depan mereka, buah yang segera masak dan bakal gugur sendiri di kala waktu datang menitah. Namun bocah mana yang bakal sabar, hasrat telah bersemeyam kekal, berlomba sambitkan batu tak peduli nyasar, bebal. “Mangga ranum itu bakal jatuh juga, Nak. Ia telah menyerahkan ketentuan pada sang waktu. Bersabarlah menunggu.” Dan untuk nafsu, ia menolak. “setidaknya, akulah yang akan menjelma cacing panas dalam usus-usus sampah kalian, hei bocah-bocah tengik! Bau kencur! Calon-calon perusak dunia!!!” 030205/01:40 O NANI O nani.. tak kukira sejauh itu kau kejar, sambil berlari sementara dunia biar sibuk sendiri kita di sini, bernyanyi ..padamu negeri… lihat! dunia terus berubah dan kita, terus bernyan...

poem1

PENYESALAN Ada keraguan dihati ini saat kau beri bunga, waktu itu. Ada kebimbangan dijiwa ini saat pertama kau cium, hari itu. Ada penyesalan kemudian kusadari setelah diperkosa, malam itu. Tapi apa dilacur Kita *telah sampai di ujung yang tak bisa ‘tuk kembali* Tapi ini bukan akhir Hidup baru telah menanti oktober02 BERSUCI Sebuah pembunuhan telah terjadi pagi ini Aku membunuh segumpal kekotoran kemaren hari dalam pertempuran malamku Kemerdekaan kudapati pagi ini Betapa leganya menjadi orang yang bisa menahan diri Maafkan aku cantik Aku tak mau membajingimu oktober02 BENDERA Tak lagi merah putih Tapi sudah abu-abu ; warna bendera pusakaku dikotori tangan-tangan pengkhianat! negri ini MASIH ADA Yang dulu pergi, kini ‘kan kembali Aku termangu Masih ada bunga untukku Aku malu Begitu berdebu Seikat kesucian terkenang Kuingin lagi dirangkul damai Seperti pertama Tanpa noda Aku terharu Masih ada cinta untukku Yang dulu menghilang, akan kembali datang oktober02 DUNIA HITAM yang namanya...

KOIN SERATUSAN, DADA SEORANG PEREMPUAN DAN MATA-MATA BERWARNA MERAH

Sopir angkot itu menyerahkan koin seratusan kembalian ongkos kepada seorang mahasiswi yang baru turun dari angkotnya. Gadis itu sangat cantik. Rmbutnya yang tak sampai sebahu dioles dengan cat rambut sehingga berwarna pirang. Kulit wajahnya, dan juga seluruh tubuhnya, yang putih mulus memberi kesan cewek modernya. Apalagi jika dilihat pakaian yang dikenakannya, sebuah kaos mini dengan lengan sangat pendek dan bawahan sangat pendek juga sehingga terlihatlah daerah yang bebas lihat pada pinggang dan perut mulus itu. Celana jeans yang dikenakannya juga tak tanggung-tanggung super-ketatnya, super bermodelnya dan tentunya juga bakal super menarik perhatian orang lain. Koin seratus tersebut oleh gadis ini dimasukkan ke kantong baju kaos ketat dan mininya, yang terletak di dada kirinya. Tapi sesaat gadis ini terlihat tertegun. Ia merasa aneh, entah apa. Sejenak dirabanya koin seratus di saku dada kirinya itu. Tapi tak lama raut mukanya kembali berubah. Ia lalu terlihat tersenyum saja pada or...

BUMI KEJORA

Gerakan mengusung tema feminisme atau isu gender memang cukup marak dewasa ini dalam percaturan komunitas sastra (di) Indonesia. Bukti teranyar adalah dengan digondolnya ‘piala’ juara satu hingga tiga sayembara menulis novel DKJ oleh kaum hawa. Entah apa erat kaitannya antara tema feminism tersebut dengan perempuan-perempuan novelis yang tengah berjaya tersebut pula, yang jelas salah satu novel perempuan pemenang tersebut memang benar-benar dengan gagah mengusung tema ini. “Geni Jora”, novel ‘perlawanan’ karangan Ibu Abidah El Khalieqi inilah yang bakal dibahas dengan menggunakan tinjauan stilistika dalam tulisan ini. Dengan menggunakan latar tempat Timur Tengah pada beberapa ‘tempat’ pula dalam novel ini, juga latar suasana ke- Timur Tengah -an – dan sehingga pula (kenyataannya memang begitu ) berimplikasi pada hadirnya adat serta relijiusitas beraroma Timur Tengah ( dalam hal ini ‘Arab’ dan ‘Islam’ ) dalam versi cita rasa Indonesia tentunya – membuat novel ini memiliki keunikan dan ...

LELAKI FAUJAH

Ia berdiri, menatap ke luar jendela. Bukan pandangi langit dengan sia. Tapi kosong. Mata menerawang. Entah kenapa, bisa-bisanya sekarang batin yang bicara. Dan apa betul ini batin? Ah, hidupku ini terlalu indah untuk kutinggalkan. Bah! Apa yang ada sekarang terlalu nikmat untuk dilepas. Bangsat!! Apa yang ada dalam otakku ini. Iblis! Persetan….Persetan nurani! Laki-laki itu hampir saja membanting genggaman gelas di tangannya. Tapi keburu sentuhan tangan nn.Barbara lembut membelai kepalanya. “Hmnsijidjieioeofjfjjgj.” “Dsheufmfkfklrorklf!” “Mhshdriucvufnfhjfjfjfjfjhgfujfgjfififiktfrjfu.” Kembali aku ke tengah ruangan tempat pesta dilangsungkan. Dengan tangan saling bergandengan, aku dan nn.Barbara berdansa mengikuti musik yang mengalun. Sambil berpelukan, di telingaku ia terus membisikkan: apa yang kuharap dari bangsa yang tenggelam dalam kebodohan dan kehinaan ini? Dan, ketika berhadapan lagi dengan pertanyaan seperti ini, biasanya aku selalu hanya mengiyakan. Aku selalu tertawa terbaha...