Postingan

Tuduhan Jualan Agama Itu, Apa Sih Maksudmu?

Ini sebetulnya klise saja, sejak kasus "Robert Al-Baqarah"-nya PKS meledak kemaren-kemaren jadi muncul lagi ke permukaan perdebatan tentang orang-orang yang berpolitik dengan membawa-bawa isu--bahkan klaim identitas--keagamaan. Buya "Sapi Arif" dalam sebuah tulisannya di media terbesar di Indonesia, yakni KxxPxS, beberapa waktu lalu menceritakan lagi perdebatan lama ini di kalangan politisi Indonesia sewaktu akan merdeka. Ada yang berpendapat bahwa kekotoran dunia politik sudah tidak seharusnya dirasuki eh merasuki pula kesucian agama--inilah yang kemudian dilabeli dengan kaum sekuler--dan ada pula pihak yang justru berpendapat kesucian agama bisa digunakan untuk "merinso" kekotoran politik. Jauh berabad sebelumnya sejak dunia pemikiran dan ilmu bahasa berkembang di kalangan manusia dunia sebetulnya ini juga sudah kontroversi; dan terus berlangsung, hanya berwacana seperti tanpa ujung hinggat kini. Di berbagai forum komentator dapat kita saksikan--dan nikm...

Review Film The Front Runner (2018): Kontol dan Kontrol

Gambar
"Di lingkaran ini, orang yang ada uang ada kekasih." (Money-film Korea: 2019) Akhir-akhir ini rasa-rasanya aq kebanyakan nonton film yang dibintangin Tricia Devereaux (Porndemic, 2019), eh Hugh Jackman—mudah-mudahan tidak’ salah pentulisannya, karena maklum aq biasanya nulis yaa cuman mengandalkan ingetan ; nantik klo sempat baru dieditin saat online (bisa cek ke Mbah Gugel), padahal dulunya cuman taunya si doski ini main jadi pemeran Wolverine dalam serial X-Men. Mulai jadi superhero solo karir dalam film ber- setting utama kota Tokyo—klo ndak salah ini kisah terpisah Wolverine/Logan sebelum ia (ber)gabung dengan Tim X-Men di vila "lokalisasi"-nya Prof. Charles Xavier untuk "anak-anak berkebutuhan khusus" (para mutan). Kemudian kulihat ia juga main dalam sebuah film penuh bintang-“angin” (maaf lupa judulnya, mungkin Movie 43); berperan sebagai SESOSOK JENTELMEN TAJIR yang nge- date pacarnya (pemeran Titanic, duh siapa ya namanya) dengan ...

Mampukah Prabowo Subianto Menulis?

Sebentar lagi akan digelar suksesi kemimpinan di Indonesia, Pilpres dan Pileg 2014. Jauh-jauh tahun bahkan sudah ditabur genderang perangnya. Kepemimpinan "lemah" SBY bagai sasaran empuk untuk dikritik dan sejak lama dicari-cari alternatif penggantiannya. Metro TV--media massa yang membuat dunia selubung politik jadi sedikit terang dan mengajak-ajak terlibat rakyat awam ini--bahkan sekarang berhasil menelurkan sebuah parpol yang satu-satunya lolos untuk bertarung tahun depan dengan prajurit-prajurit lama koleksi partai-partai yang telah mencicipi senayan. Uniknya ormas gagasan Surya Paloh yang menelurkan partainya inipun hadir dengan warna biru laut yang menjadi ikon Demokrat, partai yang bertahun-tahun diobok-obok kasus korupsinya. Nama mirip-mirip pula; betapa menggoda massalnya jumlah 'swing voter' yang sukses diraup secara instan oleh citra santun SBY. Capres Prabowo Subianto adalah satu dari calon pemimpin alternatif republik ini yang seperti gak ada matinya. Pa...

Fenomenalnya Mas Tri, Sang Loyalis Pak Anas

Mungkin--ya ini berandai-andai bukan sesuatu yang pasti--kita semua sudah paham keniscayaan indoktrinasi dalam dunia politik bahwa tiada kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang sejati. Tidak usah jauh-jauh memotret kepada pengertian dunia politik pada level elit kekuasaan negara ataupun daerah, dalam praktik politik pergaulan sehari-hari pun dengan mudah bisa ditemukan; meskipun memang masih sulit untuk diakui eksistensinya pada masyarakat yang masih bersembunyi di balik topeng moralitas kultural tradisional kebasa-basian. Setidaknya sejak tamat sekolahan dan bertemu realita persaingan hidup mencari nafkah, seorang anak akan mulai (dipaksa) belajar ilmu politik ini. Bahkan mungkin sejak dini menginjak bangku sekolah menengah pun ia sudah mulai didogma oleh ortunya mengenai pelajaran politik pilah pilih teman dengan berbagai kategorisasi dan dalih. Hanya sosok bayi yang masih polos hitungan politiknya; makanya 'babyface' begitu menyenangkan bagi setiap orang, menatap w...

Supersemar dan Remeh Remah Sejarah

Apa arti kesebelasan (11) maret bagimu selain hari demi hari biasa itoe. Berbeda kali bagi yang kemarin melangsungkan pesta pernikahan dan semalam "malam pertama" ia cicipi. Atau sesosok cewek smu yang esok berharap ditembak pacarnya. Tembakan 'beneran' saking pahitnya ituh tjinta. Barusan sepulang "patroli" menjelang subuh di sekeliling "komplek" rumah, sambil menenteng sabit berkarat, gw sejenak menengok almanak dan termenung semenit. Se-11 Maret; ya inilah tanggal bersejarah bagi Mayjen Soeharto yang kelak (future past tense) akan mendiktator-ganas-ganas-lembuti Indonesia selama kurun waktu 32 tahun lamanya. Ini momentum--bukan terminologi fisika meski tentang waktu jua--bagi beliau untuk menancapkan kuku-kuku kekuasaan sebagai pemimpin bangsa setelah upaya yang disebut "kudeta merangkak" dijalankan apik sebelumnya. Hingga kini tabir gelap peristiwa '65 tersebut memang telah banyak dibuka meski tidak membuat tambah pasti pula pada...

Review Film Mary Queen of Scots (2018), Kisah Kegagalan yg Dihadapi dgn Kepala yg Tetap Tegak

Gambar
teknik bikin anak Sebenulnya ini bukanlah film yg hebat2 banget, walau klo dibilangin film yg biasa2 ajah—kayak yg gw review pd postingan generasi terdahulu—yaaa agak lebih dikitlah ini. Meski low budget tdk sefoya-foya modal Gladiator atau Braveheart utk setting (utamanya utk adegan kolosal) misalnya, toh artis papan-atas—dgn bayaran mahal tentunya—BERDERETAN MENGISINYA. Dan tentu saja syarat bagi gw utk sebuah film layak review adalah nilai2 moral cerita yg menarik buat gw utk dipetik darinya—jadi yg sebetulnya dilakukan si gw ini bukan review teknis industri per- film -annya, tapi lebih ke "industri" ceriteranya. Meski film pop dan blockbuster sekalipun macam Avengers: Infinity War, pun serial lejendaris StarWars yg tentu hanya hiburan dangkal tanpa perlu pendalaman apa2 bagi kaum penonton pd umum , tapi si gw ini kadang merasa perlu juga menggali nilai2 ceriteranya. Terlebih produk seni pop juga bukankah potret legislasi dari kebudayaan massa dan zamanny...

Dobel Review Film: T-34 dan Texas Cotton (2018)

Gambar
the power of tetek bengek Apa khabar wahayy para Anda-Andi kaum sebran normal SEXalian? Sudah pada kaya-raya belum nih? Sudahkah meraih harkat, martabat, gengsi, dan prestise ? Apa? Masih kurang ya? Kurang buanyaakk? Masih pengen lebih lagi dan lebih lagi dan lebih lagi; dan takpernah ada kata CUKUP untuk memuaskan dahaga sitti-hawa nafsumu itu akan iming2 fucktamorgana keni’matan dunyawi ? Jadi, apa yg terlihat oleh kasat-mata dan dirasakan ke-riil-annya oleh sentuhan kongkret badaniah ini apatah fakta ataulah fictie !? Qiqiqiqiqiqiqi. Lama taknongol dan meng- update -i blog caem ini dengan tulis2 masturbasi-naratif yg masih fresh ß yaelahh emangnya ikann... (cuman men- setting re - run koleksi artikel2 lamaku yg mojok di web /situs lain), kali ini ane mensempatkan mentulis-tulis lagi nih. Maklum (pengumuman!) akhir2 ini ANE DAPET MAINAN BARU nih, sehingga disibukkan dengan kegiatan "main mobil-mobilan itu"; sehingga sempat break off dulu dari ngasi per...