Postingan

SM Memiliki Anak Tanpa Bapak !!

"Lihat saja catatan harianmu yang telah lalu, kamu dapat mendeteksinya bahwa catatanmu itu adalah gambaran cuaca yang sedang terjadi di alam jiwamu, dan mereka berjamaah untuk membisu." dalam sebuah laporan kompas cyber media di kategori infotainment diberitakan tentang usaha seorang 'wartawan' untuk mencari tahu nama bapak dari anak yang dikandung artis muda sheila marcia. sebagaimana diberitakan beberapa waktu yang lalu artis belia ini baru saja menyelesaikan 'kos'-nya di rutan pondok bambu tempat presidential suite room quen ayin bermukim. sheila marcia setahun yang lampau tersangkut kasus narkoba sebagaimana baru-baru ini skp dan sederet artis lainnya kemudian-nanti. sempat bebas dan liburan-refreshing ke bali namun putusan kasasi mk membuat sm kembali ke hotel prodeo dengan dijemput paksa. padahal di bali sm sudah sempat membuat liputan infotainment photo pre-wedding-nya yang baru-baru ini juga diharamkan mui seperti facebook dan rebonding. di bali ini...

Mari Bergoyang, Gempa di Padang

"Semua orang senang punya sesuatu. Tanah, barang-barang, budak. Mereka jadi merasa aman. Tapi semua itu bisa hilang. Akhirnya yang kita miliki hanyalah cerita. Aku ingin memiliki sebuah cerita indah. (Drover)" sore itu seperti biasa si saya sedang menyia2kan waktu di depan kompi. hendak mengakses situs2 porno se-antero dunia yang tersedia gratis (mendingan, daripada harus "beli" buku2 dakwah yg ber-cover warna-warni indah--melebihin quality konten-nya sendiri--yang kudu bayar dengan harga "mahal" amat buat kantong bolong awak). tiba2 tabu, sesaat terasa bumi bergoyang. ini sudah kerap kejadi disini, tambah pula awak memang kerap "mabuk" darat. jadi awalnya kucuekin goyangan2 tersebut. mungkin setelah kurang lebih 10 seken awak merasa goyangannya kali ini kelewatan, dan memastikan ndak mungkin awak sedang ber-halusinasi. cukup kencang eh kencang banget. tapi otak ini masih normal dan sigap bekerja. tapi lupa untuk berbuat bagi keselamatan diri sen...

Densus 88, Skill 7 Fashion 9

Detasemen Khusus 88, satuan anti teror Polri yang kabarnya didanai USA ini, kembali bikin gebrakan. Usai momentum Century Case, seiring perjalanan Presiden SBY ke sahabat sejati Australia, sesaat jelang kedatangan Barrack Obama, unit spesial berseragam tempur kontemporer ini menghadiahi warga negara Indonesia dengan nyawa seorang gembong teroris paling dicari, Yahya Ibrahim alias Dulmatin. Kombatan Mindanao yang bahkan disebut-sebut punya skill meracik bom dan mengorganisir teroris Islam melebihi Dr. Azhari ini ketankep sewaktu lagi asyik di sebuah warnet game online. Setolo itukah? Terlepas dari segala kontroversi--mulai dari yang paling curiga hingga yang paling direcoki buta manut saja--saya kali ini pengen memberi nilai Satsus ini dari segi perbandingan kemampuan tempur dan tampilan fesyennya. Ya, judulnya memang terlihat norak bagi text title pada pada pojok kanan sebuah permainan game computer. Dibanding satuan-satuan Polri lainnya, Densus 88 ini memang terkesan menyeramkan. Peng...

No Politik, Namun Berpolitik

Politik itu apa ciiih???? Seorang gadis manja bertanja kepadaku. Bahkan lihat itu. Sampai empat biji tanda tanyanya, macam poligami ajja. Kata politik memang merupakan sebuah teror tersendiri bagi gadis-gadis remaja. Entah karena rumitnya, entah sebab hinanya. Hari-hari penuh dinamika politis pada dasawarsa terakhir ini dalam peri kehidupan media Indonesia, mau tak mau memunculkan kesadaran baru. Betapapun kita lebih gemar nonton sinetron-sinetron busuk tersebut, namun mau tak mau sekali waktu topik berita politik terdengar juga. Entah century lah, entah SBY lah, entah sembako lah, tetap saja ujung-ujungnya bertemakan politik. Politik, politik, politik, barangkali sudah banyak yang gerah dengar politik. Padahal apa itu politik. Sekarang saya mau mengulang kembali sebuah nasehat pakar manajemen perusahaan tentang politik kantor. Katanya seorang profesional yang betul-betul memiliki kemampuan tidak perlu berpolitik untuk mendapatkan posisi yang seharusnya untuk dirinya. Tapi kenyataannya...

Padang Tergoyang Gempa Lagi Barusan, Alhamdulilah

Baru saja, ndak sampai sejam tadi, sebuah guncangan melanda kota ini. Saat itu aku tengah terlelap. Asyik mengeksploitasi alam bawah sadar. Berharap menulis dengan lebih baik lagi di Kompasiana. Apalagi termotivasi banget nih; jika sampai Mr. Hamid yang sedang ngajar di Shanghai nyempetin baca, hahahahaha. Namun seingat saya mimpi barusan bertema gw jadi semacam buronan polisi. Namun berperan sebagai orang baik. Mungkin terintimidasi berita-berita tentang teroris kali ya; teroris bercap buruk. Mungkin tidak persis juga gitu. Biasalah mimpi, saat semua realitas yang kita tekan di keseharian muncul ke permukaan. Permukaan yang belum tersentuh Logos, masih kabur, baru Sigmun Freud yang cuba mengeksplorasinya. Dan mendapat cemooh orang karena kajian metafisika mediknya. Ah, semoga para ilmuwan terkucil yang tidak dihargai masyarakat pragmatis dan tipu-tipu ini hendaknya dibalas oleh Tuhannya. Ingat Tuhan oya kita kembali ke tema gempa ajja yaaaa. Pas gempa menghentak, saya langsung terbang...

Ekonomi Mubazir dan Inflasi

Sebuah situasi menarik saya lihat terjadi jika kita hubungkan aspek kultural masyarakat dengan kegiatan ekonominya. Kegiatan ekonomi pada realitas tidak sekedar soal jual beli barang dan pertukaran kapital. Dalam kehidupan sosial bermasyarakat kita mengenal apa yang dinamakan status. Dalam kehidupan pribadi individu kita juga mengenal kultur gengsi. Ketika gengsi dan status berpadu pada aktivitas ekonomi saya melihat akan timbul apa yang dinamakan kegiatan ekonomi mubazir. Dan transaksi ekonomi mubazir, berlebih dari nilai yang sewajarnya, kukira akan berefek inflasi dalam skala besarnya. Contoh adalah berikut tentang bagaimana orang kaya menghabiskan duitnya dan membuat nilai dalam angka-angka tersebut bermanfaat nyata. Tentu tidak semua orang kaya seperti ini, meski saya juga tidak tahu apa sudah ada yang meneliti. Karena uang yang banyak dan berlimpah ruah bukan tidak mungkin si kaya ketika membeli sebuah barang dalam kegiatan perekonomiannya tidak terlalu mempertimbangkan proses ta...

Nyepi dan Tirani Mayoritas

Parayaan Nyepi di Bali membuat kita tercenung kembali: apa itu tirani, apa itu mayoritas, apa itu demokrasi, bahkan apa itu agama? Ok deh tidak usah bawa-bawa orang lain, saya saja yang tanggung jawab, dan tulisan ini sama sekali tidak SARA dunk. Penghormatan yang mesti diberikan oleh segenap elemen nasional yang ada di Bali kepada ritual Agama Hindu merupakan sebuah apresiasi dari minoritas pada mayoritas atau represi halus mayoritas pada minoritas? Uniknya untuk konteks Bali ini, mereka adalah mayoritas atas minoritas dalam minoritas yang menjadi mayoritas. Di kebudayaan nasional Indonesia yang mayoritas Islam ini kita, oke deh saya ajja, sudah maklum juga dengan represi agenda-agenda kebudayaan (agama?) Islam terhadap minoritas Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen, dll. Saat bulan Ramadhan misalnya, tempat pelacuran tutup sementara dan warung-warung makan diregulasi situasioniil waktu buka tutupnya. Kalangan non-Islam tentu sudah terbiasa untuk menghadapi siklus tahun...