Istri Anak Buahnya Tampar Petugas Bandara, Kapolri Minta Maaf Langsung p...

permainan hdp ini memang azaib, ada org yg bersalah dan kita bisa (pura2) memaafkan namun ada org yg tdk salah apa2 (bahkan tdk tahu dimana masalahnya) kita bisa (diam2) membencinya (umumnya krn hasad/iri dengki), politiking itu perlu walau tangan akan penuh kotor dgn lumpur (the necessary devil) krn bgtlah gamenya hidup di tengah2 (beragam arah kepentingan) para manusiawi yg diciptakan tuhan dari air yg hina (sperma) ini, sbg hardware dari software motivasi hawa napsu kita...

Ketemu Webnya Idola Hehe

Irfan TP (@irfanteguh) • Instagram photos and videos

"Kecuali darah, kau bisa memilih atau menawar segalanya di dunia ini. Makanan ringan kesukaanmu, tim sepakbola yg ingin kau benci setengah mati, pekerjaanmu, pasanganmu, agamamu, kecenderungan seksualmu, segalanya. Kau bahkan bisa memilih tak beragama atau aseksual. Tapi darah, belenggunya abadi."

Akhirnya ketemu juga akun yang cukup jelas dari penulis favoritku yang satu ini. Walaupun juga tidak detail dgn riwayat hidup--apalagi skrg aku memilih mahzab anti-siapanya dan fokus pada apa (yang "diperbuat")-nya--tapi setidaknya sekarang aku tahu mukanya seperti apa. Lho cowok juga koq kayak penting gitu mengetahui tampang orangnya. Karena salah satu yang bikin aku penasaran pada anak ini adalah kukira ia salah satu juniorku di kampus jatinangor dulu yang namanya kurang lebih sama--tentu saja ekey sudah lupa persis namanya atau mungkin memang tdk pernah tahu selain panggilannya saja. Kupikir dulu keren juga (mix perasaan dgn gak nyangka) punya "partner" se-almamater dengan skill menulis seperti itu karena in fuck gw merasakan kuliah di jurusan sastra indonesia penuh sesak dengan manusia-manusia medioker kalo berlebihan dibilang bodoh-bodoh. Sudah intelektual ala kadarnya juga tdk punya kecintaan pd bidang studinya alias jurusan tak ada pilihan lain hehe. Bahkan mantan dosen-dosenku tak ada satupun, sekali lagi gw ulang: satu orang pun (tambah tanda seru ! nih), yang punya kemampuan menulis spt itu (dosen-dosen ini kulihat juga keturunan para medioker juga, tdk ada yg istimewa atau khas dari mereka, pantesnya akreditasinya E hehe). Senior-seniorku pun hanya kuingat dua orang yang menonjol: Acep Iwan Saidi di artikel/analisis dan Pandu Abdurrahman Hamzah di karya. Tapi pun ini rata-rata air alias belum punya keunikan tersendiri. Dan ternyata si penulis favoritku ini juga bukan org sastra, kemungkinan anak teknik dari Polban kalo gak salah lihat di salah satu keterangan fotonya. Hal ini membuatku bertanya-tanya kenapa justru orang2 yang nyastra gaya narasi tulisannya justru orang2 yg tdk fokus menekuni studi kesusastraan? Hihihi, ini mungkin pertanyaan semi-retorik karena sebagian jawabannya sudah bisa dilihat dari syarat passing grade masuk fakultas sastra yang selalu paling terendah (tambah sangat lagi).

Yang aku ingat sekarang ada dua orang penulis paling menonjol buatku dibanding ratusan sastrawan Indonesia lainnya--puluhan ribuan mungkin kalo ditambahkan dengan sastrawan2 alay-pop pendatang baru--yakni Mbah Budi Darma dan Iwan Simatupang. Kalau di esei sudah pasti Goenawan Mohammad paling bersinar terang tapi menurutku di karya (puisi) ia medioker juga. Nah, Irfan Teguh ini bagiku masuk nominasi favorit juga diantara sangat selektifnya idolaku ditengah-tengah jumlah sastrawan yang bejibun itu--walau tentu masih prematur utk aq telah selesai menilai kualitasnya sejajar dgn duo-evergreen tsb. Kalau ndak salah orang ini aku kenal tulisan-tulisannya di situs kompasiana dulunya. Sama seperti Iwan dan Darma, orang ini kalau menulis menurutku punya gaya pribadi yang bisa kuendeus, maksudnya kudeteksi, walau tanpa ia menuliskan namanya. Bagiku seorang penulis jika tdk punya gaya khas akan jadi sastrawan biasa-biasa aja (salah satunya Mbak aktipis yang komisioner sastra di DKJ yang kujadikan pilihan objek studi utk skripsi terdesakku/berkompromi dgn selera dosen tak kompeten). Apalagi di esei, GM sudah pasti banyak "epigonnya" atau setidaknya pengaruh spt pd diriku sendiri mungkin atau Chairil Anwar kalau di sajak. Okeh segitu dulu, semoga bapak ini entah apa kegiatannya sekarang tetap akan menelurkan karya avant garde nantinya. Kalau kulihat aktivitasnya yang tak jauh-jauh dari dunia buku dan pemikiran (walau orang teknik/eksakta), kumengharapkan ia tidak layu sebelum sempat lebih mengepakkan sayap nantinya. Ia punya ciri khas dan saya sanggup membuktikannya (walau kadang saya juga berpikir jangan2 krn style berkisahnya mirip Budi Simatupang makanya kujatuh cinta). Tapi tidaklah, Simatupang dan Budi pun ada beda gaya yang jelas kukira walau ketiga makhluk ini mungkin punya medan gaya menulis yang berdekatan. Yang jelas Mas atau Akang Irfan Teguh ini kukira juga bermain dengan wawasan/refensi yang mahaluas (lintas bidang ilmu) maka aku kepincut pada narasinya (nge-link dgn pengetahuan di kepala kita) dan tidak sekedar ngutak-ngatik kata-kata indah dgn cara2 yg klise. Tidak juga hanya mencampur adukkan bejibun refensi tanpa benang merah yang jelas dan penyampaian yang bernas-ciamik sebagaimana penyakitnya para penyair obscurd yang berusaha terlihat pintar di tuntutan persaingan zaman posmo. Berusaha menghindari classy/klise tapi jatuh ke klise kuadrat bin primitif-norak! Aku suka tulisan Irfan Teguh ini karena ia punya gaya unik dari tren sami mawon generik regular gaya penulisan sastra boring lainnya saat ini. Oks congrats bro, "diJILat" pantatnya sama aQ sang Kritikus Edanan niy xixixi

"For what it's worth: it's never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There's no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best of the worst of it. I hope you make the best of it. And i hope you see thing that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you're proud of. If you find that you're not, i hope you have the strength to start all over again."

Review Film The Band’s Visit, Mencari Titit Temu Lintas Agama

Pastinya bukan karena Kak Emmy, mungkin dikarenaken shock melihat cantiknya Ronit Elkabezt (waktu pertama kulihat sudah berumur hampir 50), setelah khatam mengikuti bertahun-bertahun sidang gugat cerei dari suaminya Simon Kalem di film Gett The Trial of Viviane Amsalem (2014), aku tak dibikin penasaran untuk menelusuri karya-karya selanjutnya dari sineas Israel ini. Mungkin lebay kalau aku mengklaim dibuat syok segala rupa hanya gara-gara melihat muka wanita yang sudah tidak muda lagi itu (jadi teringat metamorfosis tokoh Celine dalam trilogi before-nya Richard Linklater yang cute itu-haaahh). Namun mengingat sebagai muslim yang terdidik untuk benci dan selalu negatif melihat Yahudi ini aku mungkin akan dibuat kecele karena muka wahyudi itu ternyata tidaklah seseram monster-monster yang diimajinasikan ke kepala kita sebelum-sebelumnya. Ternyata wanita ahlul-kitab itu ada cantiknya juga (purak-puraknya kita belum pernah lihat sebelumnya, maklum kebutuhan retorika sang demagog). Pantas toh sebagian mahzab fiqih menafsirkan halal-thayib oleh Qur’an untuk mengimpoi-inya (mohon maaf kepada para ledies tidak berlaku sebaliknya yaaa). Yah, setidaknya mahdab aqidahnya geng Ulil Abdala dkk itu lah yaw hihi.

Kalo tidak salah ingat pasti yang salahnya lupa, aku pertama kali jadi terperosok menonton film wahyudi ini gara-gara menelusuri list rating 100% di kritik film situs “tomak busuk” alias rotentomatoes.com yang konon terindeks bereputasi internasional dengan faktor dampak tergantung setoran itu (pakai bohong nih ceritanya) . Maklum kuota internet sedang sangat buaanyak—yang dahulu kalanya sangat sulit didapat gini—jadi sayang kalau tidak dipakai nyedottt anu... Jujur saja kalau tidak kupakai nonton film berseni (ataupun pop) kadang aku daripada mubazir (hampir expire) kupakai-in juga buat download film bersemi alias bokep. Lho, bukannya sudah diblokir pemerintah sejak era Ustadz Tivvy? Blokir jenggotmu! Padahal kadang bahkan seringnya yang di-download juga tak sempat ditonton. Hanya menuh-menuhin hardisk buat dipakai bohong eh dimanfaatkan apabila aku butuh (berusaha menggunakan retorika bernada positif #siasat.com). Harap maklum, aku ini pandai dalam menciptakan dalil eh dalih bahwa apa-apa yang tersumbat harus dialirkan supaya tidak  menjadi penyakit (filosofi tukang urut).
dadah2 sayonaranya om2 pulisi muslim al-masri kpd tante yahudi israil dlm chorusnya the band visit

Back to the movie, akhirnya sampai jugalah aku ke film kedua Mbak Ronit kafir yang matilah ia tahun kemaren kena kanker dan jasadnya tidak lagi utuh dan menyemburkan wewangian itu (nyindir ahlu cucokologi). Mungkin karena yang kali ini ada aroma sangat arabnya maka aku tertarik ngulik. Tentu saja film Gett juga sangat menarik, sehingga jadi top review dimana-mana. Bayangkan ia bisa membuat sebuah kisah ciamik ber-suspense hanya dengan syuting di sebuah ruang sidang pengadilan agama sepanjang film layaknya 12 Angry Men nan legendaris itu. Namun untuk kali ini aku mau mereview yang The Band’s Visit ini dulu sajalah, mumpung masih fresh dalam ingatan of memory. Aku ndak tahu apa fungsi huruf s pada kata band dalam judulnya itu; apakah tanda kepemilikan atau bentuk plural. Bukankah band itu sendiri sudah pasti benda jamak? Baru kena di judul saja aku sudah dibuatnya ow-ow karena feeling so bad in grammar walau aku tahu bahwa struktur bahasa itu penuh-banyak dengan pengecualian-pengecualian pokoknya pengecualian karena sifatnya yang konvensional dan arbiter-manasuka belaka. Jadi kumohon berhentilah orang-orang ilmu bahasa merasa bidang kajiannya ilmu pasti. Ndak usah merasa minderlah dengan orang-orang eksak sehingga kajian bahasa pun diusaha-usahakan seperti rumus-rumus matematika. Ini mah akal-akalan formalitas-prosedural namanya. Sibuk di bungkus dan kemasan akhirnya kita keropos di substansi dan esensi. Tapi begitulah yang terjadi ketika dunia ilmiah pun di kampus-kampus lebih didominasi oleh para politikus hehe.

Dan tentang politik kita bisa belajar banyak dari film The Band’s Visit ini. Sama sekali ndak bikin mumet koq seperti kalau harus nonton film dokumenter tentang perang enam hari Arab vs Israel di tahun 1967. Apalagi menusuk hati dan merontokkan keimanan seperti pembantaian-pembantaian kamp pengungsi atau bom jihad yang tidak pandang bulu siapa saja yang mungkin akan jadi korban. Sebagaimana judulnya, film ini agak musikal malahan. Tapi ya memang tidak terlalu. Walau sangat sedikit musiknya, film ini cukup mengingatkanku kepada Pitch Perfect, La la la Land, Whiplash dan terakhir Sing Street (satu lagi ada film kartun berjudul Sing belum sempat kutonton). Tampilan band-nya pun hanya pada scene akhirnya saja bisa kita saksikan. Sepanjang film ini penuh dengan ngobrol-ngobrol chit-chat alias basa basi dan formalitas-komunikasi antara dua kultur yang saling berbeda bahkan saling berperang hingga kini: Arab-Islam dan Israel-Yahudi. Kenapa ia bisa jadi menarik?

Ya sudah, silahkan tonton sendiri. Ternyata sudah panjang juga punyaku hehehe. Note: aku bisa dapat dari google drive dalam format mp4, so sangat kuencenggg sedotannyaaa, n pake forji yaa sob biar speedy  beneran dan jangan pakai dibohongi yaaaa!

[wemkomen] NASA Live Streaming Bumi Dari Luar Angkasa (HD)

daripada diperdaya akal bulus manusia-manusia mending kita nonton nie aja

[wemkomen] Sekolah Agama Favorit Ketahuan Pungli Akhirnya

uanghuakkkbarrrr! berita konspirasi wahyudi! jaga ukhuwah, ingat fikih prioritas, tutup-tutupi! berita2 negatif cemini bisa mendemotivasi kita beramal baik, kalok sudah tdk melihat lagi apa imbalannya dari amal soleh bisa2 kita menjadi penjahat semua!

[wemkomen] Orasi Full | Anis Matta | Konspirasi Dalam Alquran



seedapppp nih... sang demagog, sudah mulai pakai diksi sembelih, sembelih, baguslah sang eks waka dpr nkri yg kasus sogok maharnya hilang ditelan bumi ini mulai agak jujur retorikanya, jangan malu2 utk mengumumkan hubungan ukhuwah erat2-renggangnya dengan faksi2 teroris-jujur di bawah naungan iman buto ijo kana dollar and for nudist angel in heavennnn hehehe!

[wemkomen] Husband Gets What He Deserves! | The Jeremy Kyle Show





whattt the fuck this people fighting about???

[wemkomen] Raw Video: Deputy Shown Kicking Teen Girl

 


tidak terbiasa bertemu kehidupan yg keras kadang membuat seseorang lengah dgn implikasi buruk bahkan terburuk yang mungkin akan dihadapinya

[wemkomen] Aggressive Gangsta Gets Pushed Back By Security Dan | The Jeremy Kyle Show



ada orang yg memang tdk bisa diajak berkomunikasi dengan kata2 melainkan harus dengan kepalan tinju!

[wemkomen] Lihat Rumah Yana Zein, Netizen Kaget : Rumah Mewah Gitu Tapi Kok Anaknya...






kayaknya memang lebih pas dimakamkan secara agama uang 😍😍, secara gitu lho... #solusi_semua_happy

[wemkomen] HEBOH!! kedua orang tua ribut di rumah duka, Ayah Marah Yana Zein dimaka...






daripada ribut2 begini bagaimana kalok bapak-ibu bersatu saja dalam agama uang? normal kan!

Banana Wars

meski dgn terngantuk-ngantuk khatam jg akhirnya kukudap episode2 starwars ini, tdk begitu terhibur (krn beda selera) namun ia penting utk pengetahuan sbg yg disebut2 pilar peradaban modern dan posmo ini, apalagi disandingkan dgn series godfather yg legendaris itu mengertilah kita apa yg terjadi dan akan kemana "perahu" kita, tertatih2 kubutuh waktu bertahun2 menyelesaikannya plus rogue one juga yg baru itu lalu diakhiri secara cantik oleh episode 3: revenge of the shit, lalu era clone wars pun segera tiba, akhirnya tiba saatnya master yoda akan mengasengkan diri ke kuil gazebo yg cantik nian ini, gagal sudah ia membina para kesatria jedi di repoopblik galaksi-koneksi, begitupun wan-kenobi harus merelakan the choosen one anakin skywalker menjelma darth vader yg begitu ngerii, tidak ada yg salah: kita memang hidup di dunia cap dan label utk kepentingan administrasi (dan strategi politix), simply the world works... holly shit! alah swt atau tuhan apapun you name it memang mempergilirkan waktu, skrg saatnya lord shit dibebani tugas sbg chief of commanding officer utk meregulasi perikehidupan masyarakat dunya-antariksawi ini dgn energy the dark side of force-nya, para (merasa) membela kebenaran waktunya utk bertapa menjauhi kerumunan agar ilham tuhan kembali sudi diturunkan ke muka bumi, mo ngapain yah? mungkin ia akan mengisi sang waktu dgn mengisi tts sajalah, drpd berkoar2 paham betul agama tapi masih sj men-shodaqah-kan usia utk berburu dan menghidupkan mesin ekonomi debt based system atau paper-money made on wahyudi-american n partner factory itu dgn alesan ini-itu (baca: pengen beli ini-itu ikut2an yg lain, dasar keturunan monyet2 rebutan pisang), atau mungkin pertapa yg terpelanting keluar dr barisan gerombolan bebek-bebek ini akan menghabisi umur dgn mencoba menafsirkan semua iklan di langit spt antum lihat terlukis cantik pd langit atap gazebonya, sptnya dia ada niat ikut lomba gelitik karya sastra-nya dkj seolah kompetensinya sanggup setara dgn bejibun para ahli susatro yg pesohor di luar sana (kebetulan skrg ia punya kartu akses ke salah satu perpustakaan sebuah universitas utk mencari2 referensi biar tulisannya kelihatannya ilmiyyah krn ada kutipan disana-sini, walau asal disambung2in sanadnya ala ilmu cocokologi), dan skrg ia sudah lebih kompromi dgn sikon politiking (meski selow aja ndak PAKAI ngotot apalagi ambisi) dan telah menekuni ilmu maklum bin konformi alias membungloni yg mau tdk bgtlah cara mainnya kehidupan bersama berbagai macam faham dan kepentingan org lain, mungkin kalok ia sudah tenar nanti akan banyak yg request friend atau like n komen dan ini bukanlah olok2 menuduh org berideologi oporayam macam2 lho yaa (praktik ilmu maklum itu tadi neh), tapi mungkin sj ia akan lebih memilih kosentrasi pd rahasia akhirat sj, spy tdk ditifu para makelar agama-agamaan yg bgmanapun saudaranya sesama manusia juga yg butuh biaya menggaya juga lah (ilmu maklum lagi), terlebih di sya'ban ini saatnya beramal mempersiapkan ritual lapar-ikut2an di ramadhan nanti, selain menikmati waktu bersama kedua ortunya yg msh ada umur, utk ini rasanya emas sebesar gunung uut atau pekerjaan sebergengsi miliarder-boneka si zuck itupun tdklah akan bs menggantikan, mungkin yg ortunya sudah tiada akan mengaminkan postulatku ini sembari menitikkan air mata penyesalannya, okeh saatnya berhenti berkicau, yg maksud kita bercanda dan bersolilokui sj bs saja dan sah2 sj ditafsirkan/diimplikasikan laen oleh manusia lain dgn segala stock praanggapan mereka, apalg yg udah hasad dr sononya yg secara positif kita lihat sbg sparing partner sj, oh ia jadi nafsu pengen pesen nih terakhir dlm rangka menyambut datang bulan suci nanti: jauhilah iri dengki dan cinta harta/kedudukan krn itulah akar dr semua sisi gelap the force, berapa banyak sih amal ibadah lo itu tdklah akan separo dari separo dari separonya ketaatan iblis yg akhirnya runtuh total begitu disesaki hasad melihat kemuliaan adam yg diberkati tuhan jago terminologi, kejahatan pertama di atas langit, kejahatan pertama di muka bumi rasa2nya semua jg sudah pd tahu ndak perlulah ku sok mencritakan lagi, bekerja keras mencari nafkah tdklah harus dimotivasi dgn watak matrelinial dan oporayam itu tadi, yeahh ini memang khotbah dr org yg belum punya tangggungan selain anak2 ayam yg hanya diberi makan dgn dilepasi bermain ke sekeliling taman dan tdk punya tagihan kartu kredit yg harus dilunasi setiap bulan, berkecimpung dgn politiking-oporayam dan toko material-riba lalu mengklaim kenal sosok sang agung yg bersemayam dgn imutnya di atas langit sana, uhh semoga ceramahnya ini juga bs memantul ke kediriannya yg tumbuh besar sbg anak pegawai negeri hehe allright see u soon di sekuel selanjutnya bersama anak2nya mama padme neebo, si ananda luke dan adinda (alm) princess leia itu tadi di: a new hope, empire strikes back, dan return of the jedi! #very2_recommend_to_undertandingplaus_life

Sajak Si Dungu Dima-Dima

by Mr.hidden_agenda*

Sudah hukum alam bahwa selama ada sorot cahaya,
maka bayangan/sisi gelap kita akan eksplisit keterlihatannya

Ketika ku-TK aku bisa maklum harus bertemu dengan Si Dongo
Ketika ku-SD aku dibertemukan lagi dengan mereka Si Dongo
Kekita ku-SMP lagi-lagi ketemu Si Dongo
Kekita ku-SMA lagi-lagi nemu Si Dongo
Ketika kumulai S-1 yaa Tuhan, ternyata banyak beredar Si Dongo
Kekita kulanjut S-2 yaa Setan, Si Dongo masih-selalu eksis
Maka-jika ku-S-3-kan, yaa sudahlah takdirnya berkawan para Si Dongo

Bahkan ketika kutua lalu mati, di kubur pun kubertemu Si Dongo
Sehabis dihisab kpd Tuhan kumohonkan last statement,
pd kesempatan terakhirat ini tolonglah diceraikan dong dari Si Dongo
Karena di syurga penuh sesak dengan para Si Dongo
--sebegitu kasih sayangnya Tuhan kpd takdir ciptaan-Nya)
dan aku terlanjur salah melukis struktur-luar redaksi sejenis do'a
aku pun terlempar ke arah neraka yang menyala-nyala

Dan di neraka ini pun, aku diperbertemukan lagi dengan Si Dongo
Entah Tuhan yang ingkar janji,
Ataukah aku yang selama ini gagal faham dan menafsiri,
Karena ternyata: Si Dongo itu adalah diriku sendiri....

Kudengar kata-kataku di telinga**
Kutemukan gema di alam muncungku sendiri
Kadang terdengar bagai gonggongan yang asing
Tapi betapa dekat anjianggg itu bersembunyi!

 **plagiat_detected

*boleh_diplagiatin

BUKAN CERPEN, BUKAN $ FIFTY GRAND


"telah lahir dg slamet 5 ekor bayi ayam kami pd sekitaran rebo dini hari kemarin dg berat yg--walau tak ditinimbang--kami taksir paling hanya sekitaran beberapa gram-an-lah, terlebih ini sejenis ayam kate yg membuat beliau semakin lebih ringan sj utk menantang tarikan hukum gravitasi dari lokasi kandang yg menjadi tempat hunian "ekslusif" ke luarga kita orang, tdk ada biaya bidan yg perlu difikirkan atau ongkos ambulans apalagi kartu bpjs yg ditolak ibu-ibu resepsionis bermuka sewot ataupun uang rokok preman parkir meski diakui ini bukti kami kurang terlihat terlibat terlangsung dlm memutar turbin ekonomi mikro rakyat jelita sehingga mereka yg terdesak oleh perut kosong akan lari ke nafkah samar2 bahkan yg jelas2 hoream dan teganya teganya krn asasnya skrg apapunlah caranya sementara kolega mereka dr kalangan white-scholar crime lbh cerdik membungkus dgn wewangian aksi2 yg intinya tetap sj taktik kutil-mengutilan, kembali ke dunia hayam: terlihat begitu kami berusaha mendekat sekedar mengajak buat wefie-an, bulu sayap2 patah sang induk kembang meradang siap terjang utk melindungi putra-putrinya yg berminggu2 lamanya harus ia dgn sabar erami spy bisa menetas hadir pd suatu hari itu ke muka planet bumi yg penuh konflik rebutan "cari-makan" di sana-sini begitu, sungguh menarik melihat baru sehari lahir ke duniawi anak2 ayam kate-mungil ini sudah pandai mendeteksi letak makanan secara mandiri sementara ada anak manusia bersaraf otak ribuan kilometer panjangnya (jk dibentangkan bisa membalut permukaan bumi) yg sudah berpuluh2 tahun sekolah dan menjadi sarjono masih saja menumpang hidup pd orang tuanya dgn alasan drpd nanti asset ortunya diokupasi makhluk2 oportunis yg hanya nongol jk ada kesempatan dan gula2 manis kita biarkan berserakan, bahkan kutika si anak ayam umur sehari ini sudah punya pekerjaan-tetap (steady job) pak sarjana tadi ternyata masih saja skul lagi dan belajar lagi seolah tak tamat2 utk membaca kitab yg hanya satu itu lagi yg satu itu lagi krn haqul-yaqin bil 'ainul fahd bahwa semua ilmu dari semua buku di semua perpustakaan di dunia ini sudah diresensi, dikompile (bahkan mungkin di-singularity) ke dalam satu buku yang itu-itu saja satu itu tadi itu, walau kadang iya dibuat galau jg koq bisa kalah determinasi dlm mencari rizqi ketimbang makhluq-binatang seperti ayam2 bocah yg buta huruf tapi imut, chubby, namun berakhlakul karimah itu, bahkan ia looser oleh burung2 pipit yg terbang di taman belakang rumahnya meloncat-loncat riang ke sana-sini bertasbih mendeteksi persembunyian para makhluk-berbiji, padahal biji2-an di "burungnya" sendiri juga sudah tak tahan lagi utk turut meramaikan pasaran buruh2 globalisisasisasi ingin segera turut direproduksi dan berkompetisi, padahal lebih gilaknya lagi jalan hdpnya hiya eh huwa tauk betul terang terhampar di depan bagaikan peta bumi datar itu hanya sj do'i harus menahan diri krn pertimbangan ini-itu yg ia maklumi sbg ujian hidup yg harus ia harungi, like a wiseman said: hidup yg tdk diuji adalah hdp yg tak pantas dijalani tapi hidup yg diuji adalah kehidupan yg tidak bisa ditawar2 lagi, terakhir: bijinya ini mawu mintak maaf krn belagak sok bijak lagi seolah2 betul2 sudah mengerti kebenaran sejati yg seenaknya dirangkum ke dalam kedua klausa-klise itu tadi, atau bahkan koplak banget menjadikannya jokes sementara saudara2nya sesama bani adam ummatulwahidanwaktasimubihablullahijami'an serta cucu cicit bunda hawa ini sedang berdarah2 terluka memar benjol bengkak melakoni kerasnya 1000 taktik dlm mencari2 apapun yg bs dijadikan penghidupan di alam posmo, lalu lebih, lebih lagi dan terus lebih, dan kemudian menjelang mati baru mencari2 pembenaran dan alesan dan beking bahkan! kasihanilah kami makhluk2 dhaif tapi pintar akting ini yaa gusti mahapemaklum walau mungkin kami beralesan demi menyiapkan dana utk wang-don-paimon pembelian klaim-kapling di syurga-ressidence kelak melalui perantara para calo-calo keimanan, dan ya tuhan jauhkanlah jg kami dr menyalah2kan mereka berbagai jenis-tipe profesi maklar tsb (para konjungtor) yg memang dibutuhkan utk oli2 pembangunan dan kelajuan civilizessions, kurangilah tensi kami dalam mengolok2 "jualan" orang krn toh mereka memang harus kreatif utk membayar tagihan ini itu yg snowballnya ke kita2 juga rantai sosioconomicsnya meski tentu banyak potong sana-sini oleh para bandar yang ngontrol cara maen di atas sana, turunkanlah kpd kami ilmu maklum tingkat tinggi tersebut spy tdk jd org kagetan lalu hal2 sepele itu membuat jantung-stroke krn tdk kunjung sadar bahwa apapun yg harus terjadi akan terjadilah krn engkaulah yg "sudah" menetapkan, jauhkanlah kami dr watak mas ngehok ngiku yg terlalu eksplisit menuduh ikhtiar ekonomi orang lain sebagai jurus pakai bohong atau teknik begal, padahal secara positif toh kita bs membacanya sbg "strategi" survival, karni kami skrg dlm makrifat ini tdk tahu lagi alasan utk hidup dalam kemerahan, mampu utk menetapkan batas yg setipis mungkin dr alam kemurungan menuju galaksi kemeriahan, tdk perlu merasa tersandung ataupun sangat tersanjung, tdk terlalu mengulurkan tangan tapi juga tdk sama sekali pula menahan, tapi yaa tuhanku-kau-dankita pemilik segala episode klimaks maupun sesi off-peak, krn kita2 masih punya kuntul tetep kami yg sok mengenal hakikat ini kalok bisa berharap dikasih kesempatan juga utk turut menyemai biji2an hitu (secara konvensional lewat persebadanan), maklum kita-kami alirannya bukan sufi atau salafiy namun sarafiii, lengkapnya biosarafyber22an!! hehehehe"



nb: foto menyusul yaa kk, maklum "wahiya" ini turun mendadak sore ini dr langit ke-infinite, mudah2an paketnya tdk tertukar oleh kurir jabriel postman dgn jatah petunjuk buat agama naulinya pak dozen kalbulus yg di kerajaan mataram itu, klo itu gw yakin sudah pake "roadmap" dan ada bekingannya, klo dogma kami ini hanyalah celoteh kentut yg akan tenggelam bersama kicauan generasi-generasi alaykumsalam caper lainnya di timbunan status limbah pabrik medsos dunmaya, tapi gpp lah asyik juga, inilah contoh "tembok-batas" antara kemuraman dan kemeriahan yg tengah kami cungkil pixel demi pixelnya, yakk kami banyak belajar ketabahan kpd om bangker yg dirutan (di shawnsank redemption)

Kebodohan Bukan Penghambat "Kesuksesan"

Salam berfikir fositif dan fragmatis wahai ummat konformitas, yang percaya-percaya aja dan ikut-ikut aja kemana angin surga di-katanya-kan sedang mengarah berhembus. Berkali-kali lagi kami kembali hadir dan hadir kembali untuk turut nyinyir-nyinyirin berbagai benturan wacana yg mengopulasi kepada bermacam-bagai tindak-tanduk politiking manusiawiyyah kita; yang merupakan kesebuah keniscayaan untuk mereka keep survival di dunia yang semakin padat dengan pesaing, dengan berbagai modal kompetensi uniknya masing-masing yang dimodalin oleh tuhannya tiap-tiap. Huffftt... panjangnya yaa punyaku!

Kemaren-kemarin aq berkomunikasi lagi dengan seorang mantan teman dahulu kala yang mengingatkanku kepada teman lainnya di zaman dulu tersebut. Sebut saja teman kita yang lainnya ini Agus dan dia orang bodoh. Sementara saya dan mantan teman yang itu agak pintar. Memang masalah bodoh-pintar ini agak relatif, tapi kami butuh juga istilah atau semacam label ini untuk menjelaskan maksud; yang mudah-mudahan oleh pembaca budiman sekalian konteksnya bisa direkonstruksi tidak terlalu jauh berbeda dari apa yang kami maksud untuk disampaikan. Jadi kembali ke cerita, dua orang agak pintar dan satu orang bodoh ini kebetulan sekolah di tempat yang sama (isunya si bodoh bisa juga masuk sekolah disana karena faktor kekuasaan makmaknya). Sekolah kami bertiga agak jauh dari lokasi kami bertiga berkediaman. Jadi kami bertiga berasal dari lingkungan rumah yang agak saling dekat satu sama lain; sehingga kami sering bertemu ketika akan pergi dan pulang ke sekolah kami yang jauh itu.

Saya sebetulnya sangat suka secara personal pada teman saya yang bodoh ini. Walau intelektualnya kurang tapi ia orang yang relatif asyik untuk berteman; humble kata orang-orang snobis zaman sekarang namun saya tahu pasti itu memang sudah melekat pada kepribadiannya dan tidak dibuat-buat untuk keperluan politiking sementara. Kebodohannya jadi begitu membekas di ingatan saya selain karena ia sering (bahkan selalu) mencontek kepada saya jika ujian adalah karena kata teman saya yang agak pintar untuk menghiperbolakan kebodohan teman yang lain ini: “nambahin garis panah vektor saja ia ndak bisa!” Jlebbb banget bukan, makanya susah buat saya melupakan (walau sekarang saya juga sudah lupa persisnya ini masalah apa hehe). Ya kebetulan kami bertiga dulu sama-sama bisa duduk di kelas MIPA dan kenapa si bodoh juga bisa (naik kelas) rasa-rasanya terlalu kejam kalau saya sebut-sebut lagi kenapanya.

Mari kita potong garis waktu dan tibalah kita di masa depan. Sementara kami berdua yang mengaku agak pintar ini melanjutkan kuliah, si bodoh tentu saja tak tembus UMPTN. Terus terang berat bagi saya buat bercerita ini karena saya punya banyak kenangan begitu manis dengan si bodoh. Salah satunya ketika kami berdua menginap di rumah kakaknya supaya tidak terlambat datang ke ujian masuk universitas yang agak jauh dari rumah kami. Tentu saja di ujian itu ia tak bisa lagi mencontek kepada saya dan lobi-lobi ortunya mungkin sudah tak mempan (walau saya agak heran dengan fakta bahwa di universitas dan jurusan tempat saya nembus ada dan bahkan banyak juga toh orang bodoh yang bisa masuk, mungkin kerena ini jurusan sontoloyo yang passing-gradenya keterlaluan rendahnya, ah jadi gw juga orang sontoloyo dong hehe).

Lalu bagaimana dengan dunia pasca-sekolah dimana sekarang hepeng dan kedudukan politik menjadi illah dan segala ilmu-pengetahuan hanya relevan jika dipandang bisa “menghasilkan” rupiah? Saya sendiri masih tertatih-tatih meniti karir di bidang saya walau asyik-asyik saja tidak merasa perlu untuk menyesalinya. Walau kompeten tapi saya memang tidak berorientasi kepada monetisasi ilmu. Saya bahkan cari uang dari hal-hal yang nggak ada kaitannya sama sekali dari kompetensi keilmuan saya sementara banyak orang-orang tak kompeten yang dapat penghasilan dan mencari penghidupan disini. Teman saya yang agak pintar tadi kuliah di bidang teknik namun karena satu dan lain hal yang tak elok saya ceritakan ia jadi “terjerambab” ke bidang agama. Walau sarjana teknik ia kerja di departemen agama dan tidak tertarik lagi dengan diskusi-diskusi intelektual selain membicarakan bagaimana supaya masuk surga dan mendapatkan 72 bidadari bugilnya. Sebagai pegawai negara tentu kita mengerti bahwa ia hanya hidup dari gaji standar oleh pemerintahan “thogut” yang tentu saja kalau ditanyakan akan ada saja alesannya hehe.

Nah, bagaimana dengan nasib-penghidupan teman kami si bodoh yang tidak lulus untuk melanjutkan sekolah tadi? Sekarang ia menjadi pengusaha rumah makan yang sukses di kota kami ini. Punya rumah/kediaman pribadi megah sendiri bahkan sebelum menikah atau berkeluarga. Bahkan mempekerjakan sebagian teman-teman sekolah kami dulu. Waktu saya secara spontan dan tanpa maksud mengatakan bahwa ia bisa sukses berkat orang tuanya yang memang aktivis perdagangan kelihatan betul berubah air mukanya seolah-oleh saya meremehkan dia. Padahal saya setuju bahwa ia punya soft-skill untuk dunia ekonomi dan politiking walau “agak kurang” dalam intelektual. Intinya dari cerita saya kali ini adalah motivasi untuk para pembaca sekalian yang merasa bodoh atau minimalis secara intelektual lalu frustasi tentang bagaimana caranya supaya kaya-raya atau sukses finansial-material di duniawi ini.

Saya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan cerita tentang teman saya sendiri ini, namun butuh menyampaikannya untuk pelajaran, nasehat, ataupun boleh-boleh saja dipandang narasi satire kepada ummat manusia. Seandainya ada dari dua teman itu yang meminta tulisan ini dihapus, pasti akan saya lakukan walau dalam tulisan ini saya tak menyebutkan nama dan sudah berusaha untuk mengaburkan fakta kenyatannya. Jika tulisan ini masih ada, berarti mereka berdua tidak ada yang baca atau memang merasa nggak masalah dengan apa yang saya sampaikan. Terakhir saya akan kutip quote bijak atau boleh saja dipandang satire dari almarhum Bob Sadino: “orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan, orang goblok cuma punya satu ide dan itu menjadi kenyataan.” Jadi jangan pernah patah semangat dalam mengejar status dan gengsi di politiking duniawi ini, membahagiakan orang-orang terdekat kita dengan sejuta kenikmatan riil/semu serta siasat-pamrih keuntungan timbal balik juga bisa kita dapatkan dari sini; dan terakhir salam go-blog yo!

Logika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia


oleh Geko Kriswanto

Suatu pengajaran bahasa selalu berhakikat pada proses pembentukan logika dalam diri peserta didik (dalam mengkomunikasikan ide dengan bahasa yang dipelajarinya). Acuan pokok yang paling mendasar ini agaknya telah diabaikan dalam praktik pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Kurikulum terbaru sebenarnya telah memberikan peluang yang luas bagi guru untuk menggali kreativitas, baik yang menyangkut sumber bahan maupun metode penyajian.

Kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir. Ukuran keberhasilan pengajaran bahasa Indonesia hanya ditolok dengan ketepatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam testing. Keadaan pembelajaran seperti itu telah menjadi unsur dominan yang menggagalkan proses pembentukan logika dalam pengajaran bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia mulai dilirik bangsa lain untuk dipelajari sebagai suatu disiplin ilmu, tetapi di negaranya sendiri masih diposisikan sebagai mata pelajaran yang ambigu. Kita tidak bisa berpaling dari latar belakang historis pada 28 Oktober 1928, tetapi keputusan yang menetapkan nilai minimal harus enam (6) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, justru mengebiri perkembangannya.

Dengan demikian penelitian dan diskusi ilmiah tentang bahasa Indonesia menjadi sia-sia, sebab hanya bergerak pada tataran akademisi kampus belaka. Sekolah sebagai basis perkembangannya telah terjebak ke dalam pengajaran teori saja. Bahasa sebagai sarana untuk membentuk logika, akhirnya terwujud dalam pengedrilan materi untuk menjawab soal-soal testing dan ujian akhir.

Tahun pelajaran 2003/2004 diumumkan bahwa kelulusan siswa ditentukan oleh pencapaian nilai di atas 4,00, berarti dalam ujian akhir siswa minimal harus mencapai 4,01 untuk setiap mata pelajaran yang diujikan (nasional maupun lokal). Pengumuman ini diharapkan berlaku pula untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar kemandiriannya sebagai sebuah disiplin ilmu sungguh-sungguh murni.

Tahun yang lalu, Juwono Sudarsono pernah menulis artikel berjudul "Delapan Kompetensi Dasar Pendidikan dan Kebudayaan" (Kompas, 24 Agustus 1998). Pada bagian awal tulisannya menekankan bahwa kedelapan kompetensi ini bermanfaat dalam menunjang kegiatan belajar-mengajar serta dalam menggairahkan kebudayaan nasional. Kedelapan kompetensi tersebut adalah membaca, menulis, mendengar, menutur, berhitung, mengamati, mengkhayal, dan menghayati. Apabila dicermati, sebagian besar
kompetensi tersebut berkaitan erat dengan pengajaran bahasa Indonesia.

Namun, bagaimana peranan pelajaran bahasa Indonesia dalam menumbuhkan kompetensi-kompetensi di atas? Pembelajaran bahasa Indonesia tidak akan mampu mencapainya selagi masih dimuati dengan unsur-unsur politis. Secara konkret begini, nilai empat (4) atau lima (5) untuk pelajaran bahasa Indonesia masih dihubung-hubungkan dengan paham kebangsaan siswa.

Siswa yang mencapai nilai di bawah enam (6) berarti rasa cintanya terhadap Tanah Air, pengetahuan sejarah nasionalnya, bahkan moralitas kebangsaannya dipandang sangat rendah. Kriteria tidak tertulis demikian justru mengebiri tujuan pembelajaran bahasa yang bermaksud membentuk logika siswa.

Krisis multidimensional yang masih melanda Indonesia sekarang, seandainya dirunut secara jernih, mungkin pula disebabkan pengajaran logika berbahasa yang salah kaprah. Kegamangan masyarakat terhadap arus globalisasi bersumber pada logika dalam berpikir. Cara berpikir seseorang sangat ditentukan oleh pengajaran bahasa yang pernah diterimanya. Kita tidak bisa berharap dari anak-anak TK yang bermain huruf-huruf, siswa SD perkotaan yang mengarang tentang sawah-sawah menghijau, siswa SLTP yang jarang mengungkapkan ekspresi, dan siswa SMA/SMK yang kebingungan membedakan premis mayor dan premis minor.

Sinyalemen ini memang bukan sesuatu yang mutlak, melainkan sebagai upaya alternatif untuk menemukan unsur-unsur yang mempengaruhi timbulnya krisis. Jadi, pengajaran bahasa Indonesia sangat membutuhkan kebijakan untuk menata kembali praktik-praktik pembelajaran dan penilaian yang selama ini berlangsung. Pada abad ke-21 negara ini memerlukan suatu masyarakat yang mempunyai landasan berpikir kuat, salah satunya dengan merintis pola pembelajaran bahasa Indonesia secara benar.

Karangan ini sekadar mengingatkan bahwa pengajaran bahasa (Indonesia) itu penting. justru pada saat arus globalisasi mengalir deras ke semua penjuru kehidupan. Bahasa Indonesia yang telah dibangun dengan susah-payah telah menjadi media komunikasi paling andal dari Sabang sampai Merauke.

Geografis negara Indonesia yang terbentang luas, ternyata mampu membudayakan satu bahasa nasional bagi rakyatnya, hal ini harus dipandang sebagai suatu bentuk keberhasilan. Namun, rasa kebanggaan ini masih perlu ditata kembali untuk mendudukkan bahasa Indonesia menjadi disiplin ilmu yang mandiri.

Salah satu caranya dengan membebaskan pengajarannya dari berbagai kepentingan politis yang tidak logis. Apakah para guru telah siap untuk mereformasi diri dalam pembelajaran?

================================================

Tulisan asli dimuat di Kompas, 31 Mei 2004

Drs Geko Kriswanto, SLTP Pangudi Luhur Bintang Laut, Surakarta

(Profil singkat dari kompasiana) Lahir 19 Januari 1965 di Gunung Kidul, Yogayakarta. TK SD SMP SMA di kotanya, studi terakhir IKIP Sanata Dharma Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus 1989. Kegemarannya membaca dan menulis (tentang apa saja). Kini mengajar di SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta 57131

Ini tulisan keren, walaupun topiknya mungkin sudah sering dibahas di sebagian buku atau makalah (seperti tulisan Prof. Budi Darma). Walau hanya seorang guru smp bpk ini ternyata bisa berpikir melampaui zamannya, menyalip dosen2 berparadigma oldskul di fakultas2 sastra bahkan yg sudah bergelar guru besar tapi masih ngotot dgn pendekatan2 kuno. Biasanya aq ndak doyan artikel-artikel agak normatif dan minim kreatifitas retorika, serta kering konsep-konsep baru. Andai saja aq baca artikel ini 10 tahun yang lalu mungkin punya semangat sedikit untuk lanjut sekolah atau setidaknya "turun gunung" tetap bekerja/fokus dalam bidang ini; walaupun problem2 "politis" spt dikemukakan penulis inilah yg bikin aq eneg bahkan mual dengan bidang studi sarjanaku sendiri. Tapi lama2 difikir2 lagi that's way life it is, politiking toh ada dimana2. Dan toh pengalaman menjadi guru yang sangat afektif, di tengah banjir guru-guru yang tak kompeten (tapi tetap harus dimaklumi yg namanya org/saudara2 kita itu mencari penghidupan). Apalagi aq sendiri besar sbg anak bpk/ibu guru juga neh kk... sengaja kukutil ulang kesini krn artikel ini kutemukan agak terserak di (sepertinya) tugas copasan anak kuliahan yg diupload ke blog, terus kulihat juga direferensi oleh makalah ibnu wahyudi (dosen ui) dan belum kutemukan bentuk utuhnya, entah apa penulisnya sendiri memang tdk pernah meng-online-kan atau sudah dihapus. Kulihat di kompasiana beliau jg tdk aktif bertahun2. Mudah2an ia tdk keberatan jika ketemu via google kumuat ulang karyanya hehe

7Bh Per 7 Thn, Budget-kate Knowledge-update Seorang Sarjono Paimo

Mungkin ini akan terdengar memalukan. Sangat teramat memalukan bahkan betul. Tapi ya sudahlah me-redundant. Nih aji mumpung aq sedang-sudah tidak punya kemulaan eh “kemaluan”. Ataupun punya, tapi terasa ia tak ade kerana sudah lama tidak tiada kunjung untuk “kami bergunakan". Mohon maaf wak haji, jika kata sambung yang harusnya-mutlak ditulis secara karena ini memang sengaja saya ejain berbeda dengan versi resmi/monotone yang tertera dalam keterangan (atau opini pembuat) kamus; mungkin untuk membuat jengkel para dogmator tata bahasa Indonesia beku hehe. Bagiku agak menggelikan saja ketika doktrin konvensi (entah dimana bermufakatnya?) aturan bahasa formal dipaksakan untuk dipatuhi juga dalam situasi dan ragam lain. Plank nama usaha  misalnya, ya suka-suka kreatifitas orang gila itulah ianya. Bahkan dalam penulisan ilmiyyah pun seyogyanya saran-teknis penulisan jangan malah menghambat (bahkan mereduksi) dalam pengungkapan ide dan konsep, lalu memandulkan perkembangan ilmu. Apalagi berkait kreatifitas dan estetika.

Oh, ini otoritas ahli! Sorry dude, gw udah baca penjelasan katanya ahli itu; banyak yang argumennya ndak jelas dan ternyata mendalilkan ke paradigma pokoknya (kalok subjek agama atau ilmu perdukunan sila-silahkan ajalah visinya begitu). Apalagi ahli yg punya afiliasi politik, entah sukarela atau terpaksa, pasti bias dan penuh tendensi. Hasilnya argumen ilmiah akal-akalan (dunia kepentingan). Atau barangkali aja gw yang begok, penyakit sok-sokan ngritik para pemula. Tapi yahh bagaimanapun koplak juga klo kita ngomong melenceng dari konsensus komunikasi. Seperti kretin (anak alay), kata seorang bos mafia: "speaks nonsense that only another cretin can understand" wkwkwk. Kembali ke “kemaluan”, untuk sementara-sering faktor anu itu akan kuabaikan. Mudah-mudahan tulisan nakal ini tidak dibaca oleh para bocah itu yang anu masih kecil. Bahaya memang, bisa ngebuat ngeguncang.

Beberapa minggu yang silam, “negara federal” Sumatera Barat sedang ada perhelatan huakbar. Mungkin intel-intel KPK-RI turut memantau ke kota Padang dengan kode sandi baralek untuk operasi tangguak gadang-nya; seperti sesaat sebelum dibongkarnya gurita sogok bisnis pembangunan infrastruktur jalan ala politik bagi-bagi jatah untuk raja-raja kecil di “negara-negara bagian”. Tapi mungkin juga tidak, karena perhelatan daerah kali ini terdapat di sektor kering yang miskin penganggaran bernama dunia perbukuan. Ya, Minang Book Fair itulah namanya yang entah kenapa diinggris-inggriskan oleh para region-stakeholders yang (pada) snobbis itu, sebagaimana dikritik oleh penulis-penulis yang fanatik bahasa Indonesia baik dan benar. Para fundamentalis bahasa iki hehe. Kerana tidak sempat juga kasena (muuph disengaja lagi)--takut dicegat razia polisi-jujur karena lokasi festivalnya yang di area pusat kota sehingga bisa kanai tilang yang kini nilainya ratus-ribuan (alesan)--akhirnya aq mengobati kekecewaan dan rasa rindu melihat tumpukan buku (diskon) ke Gramedia Padang saja di Jalan Damar deket taplau sana. Cukup sekali naik angkot sajah ti imah abdi mah. Sakalian pengen napak tilas menggelandang tadinya ke Sari Anggrek dan sekeliling Pasar Raya. Melakoni dramaturgi kehidupan bak tokoh kitanya Lelakon karya Iwan Simatupang atau ibarat aksi resedivis Carl Johnson yang punya pekerjaan menabrak-nabrakkan mobil yang ditumpanginya ke segenap penjuru kota San Andreas dalam storyline game fenomenol Grand Theft Auto III itu halahhh.

Singkat cerita--nantik semampai pulak cerita awak nie ke Nieu Orleans, Greenland, hingga La La La Land sana--sampailah aq di toko buku usahanya grup Kompos yang satu itu setelah terengah-engah nikmat kerana jalan kaki sikit dari BRI-S jl.veteran yang sudah lama juga tak ku-update-in sisa saldo rekening tabungan pembayar tagihan bulananku (secara daring) itu. Seperti sudah kuprediksi sebelumnya, begitu masuk spot pajangan buku-buku (katanya) sastra aq langsung disambut tumpukan buku best seller dari “sastrawan-sastrawan besar” seperti Tere Liye dan sejenisnya. Langsung kuperhatikan satu demi satu judul buku “ustadz” motivator yang pinter merangkai kata-kata klise yang satu itu (untuk memikat para gadis-gadis remaja labil penggemar harapan-harapan indah yang dilukiskan lelaki-lelaki buaya produser sinetron-sinetron “positif’); dan rasa-rasanya hanya dengan membaca judul saja saya merasa sudah tahulah kira-kira isinya akan seperti apa.

Lalu kulihat barisan rak-rak lainnya, syukurlah masih ada nama-nama sastrawan beneran walau jauh dari kata komplit untuk merepresentasi peta kesusastraan yang sebenarnya. Tapi ya bisa dimaklumilah, karena ini memang ranahnya dunia bisnis yang punya perhitungan tersendiri, bahkan syahadat khusus barangkali. Bahkan, pertimbangan politik geng-geng relasi-koneksi antar kubu-kubu sastrawan pun aromanya kuat tercium bawunya. Dan sudah pasti, buku kritik sastra tak akan laku. Tukang kritik, siapa pula yang mau tahu? “Simply the way the world works. Holy shit!” (The Big Short 2015, menit ke 01.05.50) Akhirnya, setelah bosan nyinyir-nyinyirin orang lain kayak begini, aq pun turun ke lantai bawah meninjau lapak bursa. Memang tidak terbersit niat sedikit pun di sukma dompetku untuk mengeluarkan Rp.100 ribu perak hanya untuk mendapatkan satu eksemplar kumpulan sajak-sajak yang tidak begitu istimewa itu. Hanya karena kebetulan penyairnya dikenal aktif ikut acara ini itu dan punya teman dimana-mana jadilah seolah-olah karyanya ditafsir-tafsirin punya makna mahadahsyat luar biasa. Dunia puisi. Dunia yang kering pembaruan akhir-akhir ini.

Bahkan ada juga yang “ditolong” menerbitkan buku puisi hanya karena ia dosen fakultas sastra. Padahal karya kreatifnya itu ndak kreatif sama sekali adanya. Mungkin karena terlalu banyak terpengaruh dengan apa yang ia (diwajibkan) baca. Sehingga tulisannya itupun terlihat kaku; karena ia gemetaran berkarya akibat “tugas itu” adalah hasil perintah resmi (ancaman) atasan di Kemenristek dan birokrat oldschoold  di Dikti sana. Walau mungkin gak salah juga karena that's life is... tapi ini mengingatkanku pada kakaknya Bu Yuk yang dicaci maki Wisaran Hadi dalam novel Negeri Perempuan-nya. Saya sendiri pernah membaca cerpen karya seorang dosen yang keterlaluan sangat baku dan eyd-nya. Konstruksi-konstruksi kalimatnya terasa seragam diulang-ulang model begitu-begitu juga. Nyaris tidak ada irama. Apalagi dinamika melodi yang bermain di dalamnya untuk membaharui "standar" estetika. Estetikanya hanya meniru model-model bersajak lama. Full of cliche. Oh Dear Godot... sebegitunya guwa mengkritik rekan sejawatku seolah-olah aq mampu untuk menulis dengan lebih baik dari mereka xixixi. Ah setidaknya “karya sastra” yang sangat tertib, santun, dan very-very templately so much seperti itu kukira sangat tepat untuk bahan ajar anak SD atau TK setidaknya. Sudahlah, mari kita ambil sisi positifnya aja deh.


Waduhh, kemana pula ceritaku kali ini berkelok-kelok mengalurnya. Baiklah kita flashback saja. Di lapak bursa lantai bawah Gramedia Padang ini akhirnya aku beli buku yang hanya dijual 10k saja per item­-nya (snobbis.xom). Lumayan tebal-tebal untuak pambungkuih lado yang sudah kuprediksi tak akan punya waktu untuk membacanya; dan itupun hanya satu yang terkait bidang sususastra, tepatnya susastra kuna, yang aq sendiri juga kurang meminatinya (karena lebih tertarik sastra kontemporer, bahkan futuristik {bukan future-mistik}, kalau-kalau kelak ia belum sirna hehe). Ada tujuh biji buku yang kuboyong pulang ke peraduanku; kebanyakan bertema sosial-politik bahkan ekonomi (eh profilnya Sofyan Wanandi, entah kenapa kubeli juga walau tahu biografi terbitan sendiri banyak ngarang cerita pilihan saja tentunya). Tapi lumayanlah. Uang cepek-ceng yang tadinya bisa habis hanya untuk satu ekstemplar jika beli baru itu, sekarang jadi masih ada kembalian untuk biaya pacaran. Dan lumanyun berat juga ketika aq harus ngangkutnya dengan-secara berjalan dikit; karena kuawatir kelamaan nanti nunggu angkot buat pulang kampuang. Mungkin angkot yang kunaiki kemaren itu adalah rit yang terakhir buat langsung ke depan rumah; karena waktu sudah hampir maghrib ini adalah jatah cari nafkahnya papa-papa pengojek di Simpang Tebiang sono. Lewat counter Oppo Smartphone kulihat gerombolan sales-sales muda sedang dilatih supervisor-nya untuk punya nyali berjualan hingga ke tengah-tengah jalan raya--bersaing dengan pengemis-pengemis jujur rahimullohutaala dan para pengumpul dana sumbangan bencana banjir Kabupaten 50 Kota--seperti terlihat dari yang sempat kufoto pada gambar terakhir.*

Sebuah Logika Untuk Memahami Bumi Berputar


Ribut-ribut debat tentang "keyakinan" apakah bumi yg mengelilingi matahari sebagaimana teori sains barat kavir ataukah matahari yg mengelilingi bumi sebagaimana yg leterlek terlihat oleh biji mata dan juga dikabarkan oleh kitab sucinya dalam tafsiran lugunya, aq ingin menawarkan sebuah concept yang kemaren kupikir2 masuk akal juga untuk menguji dan memvalidasi dua "teori" bertentangan ini. Ini memang bukan disertai rumus-rumus dan hitungan angka-angka karena akan makan waktu banyak kalau aq harus mempelajari itu lagi (kalaupun otakku masih sanggup). Lagipula, seorang partner-ku pun yg bidang ilmunya masih sangat dekat dengan astronomi ini saja pun kuyakin males untuk diminta tolong ngitung2nya karena gak ada benefit untuk kredit pangkat dozennya hehe.

Jadi begini logika penawaran konseptual yang aq mau tawarkan. Silakan dinalar masuk akal atau tidak, rasa-rasanya ini logika dasar saja yang tidak terlalu rumit karena aq juga tidak menyertakan argumentasi berbasis persamaan matematika dengan penghitungan detail. Apalagi "devil in the detail", kadang penghitungan yang njelimet itu jadi semacam argumentasi pembenaran untuk menutupi kesalahan pada konsep dasarnya karna seolah2 dibuat terlihat "cerdas". Aq mau menawarkan cara berpikir cukup sederhana saja yang rasa2nya tidak akan terlalu sulit dicerna. Coba Anda perhatikan timeline atau rentang waktu yang dibutuhkan oleh matahari sejak terbit sampai tenggelam selama kurang lebih 12 jam itu (di daerah khatulistiwa/ekuator) dibandingkan kepada posisi derajat ketinggiannya dari ufuk hingga zenith.

Mulai ngerti atau masih mudeng? Jadi begini, kuperjelas. Ternyata matahari untuk turun dari posisi (sekitar) 45` arah barat hingga tenggelam sewaktu maghrib jauh lebih cepat dibanding ketika ia di zenith (90`) ke posisi 45` itu. Atau jika kita parameterkan ke spasial jam analog: dari posisi jam 12 ke jam 15 lebih lama dibanding dari jam 15 ke jam 18. Begitu juga pada arah timur. Dari terbit hingga ia setinggi 45` itu makan waktu lebih cepat ketimbang dari perjalanan posisi 45` ke 90` atau tegak lurus atas kepala. Sehingga karena ini kita bisa merasakan antara sekitar jam 9 pagi sampai jam 3 sore itu posisi matahari masih cukup tinggi dalam waktu cukup lama dibanding akumulasi pagi dan sorenya saat posisi matahari sudah rendah yang terasa begitu cepat. Ya memang ini agak pake perasaan karena aq juga tidak mencatat persis waktunya.

Tentu ini jadi pertanyaan kita kenapa posisi-posisi matahari yang melingkar melewati atas kepala kita itu tidak linier dengan titik-titik waktu yang dihabiskannya? Bagi saya gerak yang terlihat relatif dan semu ini cukup membuktikan bahwa yg terjadi adalah bumilah yang bergerak mengelilingi matahari bukan sebaliknya. Jika matahari yang konstan mengelilingi bumi saya yakin timeline berbanding posisinya akan linier sempurna sehingga pada jam 9 pagi dan 3 sore seharusnya kita bisa melihat posisi matahari pada 45` di arah masing-masing. Seingat saya kemaren pada waktu sekitar hampir jam 5 sore bahkan matahari masih pada posisi 40-an` derajat ini tinggi terlihat. Saya rasa--ya aq belum bisa memastikan teori dan rumusan fisikannya bagaimana--ini juga terkait dengan arah datangnya sinar matahari yang ketika semakin ke horizon ia akan melewati sudut yang lebih lebar untuk melewati atmosfer bumi hingga ke titik mata kita berada. Belum lagi soal perubahan posisi konstan ekliptik matahari tiap 6 bulan yang "katanya" hanya bisa dijelaskan dengan teori rotasi planet bumi. Dan tentu saja segudang argumentasi lainnya yang masih saja dibantah dengan ngotot berbekal keimanan oleh kaum yang "berakal" itu.....

Terakhir, terkait juga fenomena equinox tsb yang sedang terjadi sekarang-sekarang (Khemis, 16 Maret 2017), aq juga mau mencatatkan di postingan ini mumpung ingat pada saat menulis ini tentang lintasan ekliptik matahari ini (dan "benda2" langit lainnya) di atas rumahku. Pada sekitar tanggal ini posisi matahari adalah tepat di atas khatulistiwa sebelum bergerak (semu) arah ke utara lalu balik lagi ke posisi ini di september lalu arah ke selatan lalu balik lagi begitu seterusnya sampai kiamat kecuali jika terjadi perubahan konstalasi saling mengunci antar gaya gravitasi antar benda2 langit. Nah, pada pagi ini kulihat bayangan pohon palm muda di pinggir jalan depan rumah baru/amak jatuh ke arah luar sudut utaranya bekas proyek pompa. Jadi supaya matahari terlihat tegak lurus di atas palm muda (pada sekitar jam 8-an pagi tadi itu), aq harus berdiri sekitar tengah2 antara kedua rumahku dengan polongan ke jalan. Nanti kuperhatikan lagi sore pas sunset posisinya terhadap rumahku dan pohon2 di sekitarnya bagaimana. Mudah2an ingat nih hehe.

Yang jelas sekarang aku simpan di hardisk otakku bahwa posisi ekliptik yang menimpali khatulistiwa adalah arah selatan atau kanan sedikit dari puncak tertinggi gunung/bukit sungai lareh yang terlihat dari kawasan rumahku. Nanti akan kucuba bandingkan dengan lintasan bulan yang hari-hari ini baru saja sedikit pasca-purnama atau bulan cembung, sudah pasti mirip lintasan matahari (arah2 itu juga) cuma apa persis sama? Terbitnya bulan sudah agak tengah malam dan pagi hari sewaktu matahari sudah terang ia masih cukup terlihat memutih mulai turun ke ufuk barat. Kalau nggak salah ingat ia sedang mengganggu jupiter yang masih setia bersanding dengan spica. Kalau scorpio dan sagitarius kuperhatikan agak ke selatan dari ekliptik, beda dengan jupiter-spica yang deket dengan lintas bulan. Sementara orion kalo ndak salah agak sedikit ke utara ekliptik dan sirius agak ke selatannya. Bima sakti belum juga bisa dilihat dengan mata bugil karena kala kusempatkan dan ingat untuk sejenak menatap ia selalu sembunyi kemalu2an di balik lembaran awan2 tebal ataupun tipis.

4Some: Langage, Kultur-Religi, & Politaikk, en Economyzakarnaikss

Dollar Bill Origami CAMEL by John Montrol
"Sebagai salah satu guru yang mengajarkan bahasa Arab di salah satu sekolah swasta di Lombok, saya pribadi sangat prihatin dengan kenyataan ini prof Sumanto Al Qurtuby. Dan 2015 ketika berkesempatan mengunjungi Mesir, apa yang Prof Sumanto gambarkan ini memang betul adanyanya. Betapa aneh ketika si supir taxi "terheran" ketika mendengar kami berbahasa Arab fushah. "Ini bahasa kami dengar dan gunakan dalam forum2 resmi, atau membaca puisi katanya". Sampai salah satu dri rombongan kami menangis ketika mendapati kenyataan bahwa dia yang suda 30 thn lebih belajar dan mengajar bahsa Arab di Perguruan Tinggi Islam di Bandung, tetap harus menggunakan guide untuk bisa berbelanja di Pasar-pasar. Sungguh ironis, kami di Indonesia memperjuangkan agar tetap bahasa Arab digandrungi. Tapi pemiliknya sendiri malah meninggalkannya. Saya termasuk yang mengkampanyekanbahasa Arab bukan hanya masalah agama Prof, tapi bahasa Arab seperti bahasa lainnya juga sebagai alat komunikasi pada umumnya.
Tampaknya benar kelakar teman Arab saya yang mengatakan, kalau saja bukan karena bahasa Arab adalah bahasa al Qur'an, mungkin bahasa Arab sudah seperti bahasa latin yang tidak punya penutur hidup. Mohon wejanganya menyikapi masalah ini Prof. Bagaimana selanjutnya kami selaku pengajar manyikapi ini."


Pertarungan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di Tanah Arab

by Pak Ustad Profesor Sumanto Al Qurtuby Radiyallahuanta


Di saat sebagian kaum Muslim di Indonesia sedang “demam” dan “gandrung” Bahasa Arab, di kawasan Arab sendiri masyarakat justru “demam” dan “gandrung” Bahasa Inggris yang merupakan tuntutan globalisasi, modernisasi, dan arus migrasi yang kuat. Perkembangan bahasa Inggris ini berpotensi mengancam punahnya Bahasa Arab klasik dan standar karena semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Inggris sekarang bahkan telah menjelman menjadi “lingua franca” dan menjadi bahasa kedua di sejumlah kawasan Tanah Arab.

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan kolegaku, Tarik Muhammad, seorang Arab-Mesir yang lama tinggal di Jerman. Ia menceritakan tentang fenomena menjamurnya dan prestisenya Bahasa Inggris di Mesir. Sekolah-sekolahberbahasa Inggris yang meskipun biayanya mahal diburu oleh masyarakat dengan harapan sang anak bisa melanjutkan sekolah di negara-negara Barat atau mendirikan usaha sendiri (jasa konsultasi, klinik, bisnis, dlsb) di negaranya yang memang mengsyaratkan kemampuan Bahasa Inggris baik untuk membaca dokumen atau teks maupun medium komunikasi.

Fenomena merebaknya Bahasa Inggris ini bukan hanya di Mesir saja tetapi juga di kawasan Arab lain seperti Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Libanon, Yordania, Bahrain, dlsb. Karena itu tidak mengherankan jika Anda menjumpai orang-orang Arab yang cas-cis-cus dalam berbahasa Inggris: good mornang-good morning, brathar-brother, baba-mama…

Perkembangan pesat Bahasa Inggris ini pelan-pelan telah menggerus eksistensi Bahasa Arab yang dianggap kurang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Bahasa Inggris juga menjadi "bahasa elit" karena banyaknya industri-industri besar dan transnasional, selain sekolah-sekolahatau kampus-kampus yang meniru model Barat. Bukan hanya itu, anak-anak dan remaja juga menggemari Bahasa Inggris karena banyaknya game-game yang menggunakan "Bahasa Londo" ini.

Kekhawatiran tentang "teknologi membunuh Bahasa Arab" ini direspons oleh Syaikha Moza, Kepala Qatar Foundation for Education, Science, and Community Development, dengan menggalang pembentukan "Forum Renaisans Bahasa Arab." Sebuah simposium akbar tentang pentingnya menjaga dan merawat Bahasa Arab digelar di Qatar, negara tetangga Saudi yang juga bermazhab “Hanbali-Wahabi” tetapi Hanbali-Wahabi yang moderat dan modern. Simposium ini diselenggarakanoleh "Forum Kebangkitan Bahasa Arab" dan disponsori oleh World Organization for Renaissance of Arabic Language (WORAL) dan Qatar Foundation. Forum ini melibatkan lebih dari 300 peneliti dan tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang keilmuan: pendidik, jurnalis, birokrat, pengusaha, dlsb.

Ketua Dewan Penasehat WORAL Abdul Aziz bin Abdullah Al-Subaie menekankan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Arab bagi anak-anak. Sementara Syaikha Moza Binti Nasser, Kepala Qatar Foundation for Education, Science and Community Development meminta semua pihak untuk bersatu menggalakkan, mengembangkan, dan memasyarakatkanBahasa Arab standar agar tidak punah di kemudian hari. Syaikha Moza juga menegaskan bahwa punahnya bahasa berarti lenyapnya identitas sebuah bangsa.

Dunia Arab dewasa ini memang sedang dihadapkan pada persoalan pelik dan ancaman punahnya Bahasa Arab standar dan Bahasa Arab klasik (fushah). Ada beberapa faktor yang menyebabkan "terpuruknya" Bahasa Arab standar dan fushah ini. Pertama, masyarakat Arab kontemporer lebih menyukai "Bahasa Arab gaul" atau bahasa/dialek colloquial (ammiyah), yakni Bahasa Arab informal yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, ketimbang Bahasa Arab standar yang baku. Penggunaan "Bahasa Arab gaul" ini tidak hanya dalam komunikasi sehari-hari tetapi juga di media, sekolah-sekolah, televisi, dlsb. Maraknya penggunaan Bahasa Arab gaul ini menyebabkan Bahasa Arab standar dan baku yang sesuai dengan kaedah tata-bahasa (nahwu-sharaf) menjadi terasing dan termarjilankan.

Jika Bahasa Arab standar modern saja tergerus dari masyarakat apalagi Bahasa Arab klasik yang digunakan dalam Al-Qur'an, teks-teks / kitab klasik keislaman, berbagai ibadah atau ritual keagamaan, syi'ir, dlsb. Bahasa Arab fushah ini semakin langka dan "antik" dan nyaris tidak pernah dipakai dalam literatur keilmuan apalagi dalam kehidupan sehari-hari sehingga macet dan terancam tenggelam terkubur dalam limbo sejarah, dan penguburnya adalah masyarakat Arab sendiri.

"Murid senior" saya dari Madinah, Ali Muhammad Al-Harbi bahkan mengatakan masyarakat Arab modern (selain "komunitas literati" dan "kaum agamawan" tentunya)--apalagi anak-anak, remaja, dan pemuda--bahkan banyak yang tidak paham dengan Bahasa Arab fushah ini. Sambil berkelakar ia mengatakan, "Bahasa Arab fushah ini seperti 'bahasa mahluk alien' saja sekarang ini yang semakin hari semakin asing, klasik, dan antik..." (sumber: fesbukkiyahh)




















Resolusi/Konflik Rebutan Periuk Nasi Antar Out-Group

Sekitar se-dasawarsa lalu nan silam--sewaktu Mas Rangga "si monyet" AADC (Ada Anumu Dibalik Cintaku) mungkin sudah selesai kuliah arsitekturnya di New York dan supaya tidak terlalu terlihat menganggur bikin cafe kecil-kecilan (walau nombok) yang baru kemaren2 akhirnya dikunjungi adik kandungnya untuk akhirnya mempertemuinnya kembali kepada Mbak Cintanya di Yogyakarta dalam sekuel AADC 2 besutan Miles Production yang naasnya kurang heboh itu--di rubrik seni-budaya "khazanah" koran Pikiran Rakyat Bandung-Jabar, selama berminggu-minggu terjadi sebuah konflik langka (jalang2 mengemuka).

Kegaduhan ini berawal dari sebuah diskusi seni yang diadakah jajaran seniman-akademisi seni rupa ITB Bandung (mohon tidak disalah2kan sebagaimana penulisan Bank BCA, BNI, BRI, BII, BTN, BTDEH, dstnya itu). Seorang narasumber yang berkebetulan asal Batak hengkang secara mendadak di tengah-tengah acara gara-gara pembicara lainnya, seorang profesor seni dari etnis Sunda, terus nyerocos full dalam bahasa daerahnya pada forum harusnya beranah nasional tersebut. Kebetulan pula Si Ucok tersebutkan tadi kurang pandai berbahasa Sunda meski sudah bertahun-tahun menjadi jajaran kritikus seni papan atas di tanah pasundan sana. Untuk beberapa minggu ke depannya setelah kejadian itu seingat saya "khazanah"-nya koran nomor satu di Jawa Barat ini memuat artikel yang saling sahut menyahut dari para pakar dalam meninjau "kasus" yang satu itu. Bahkan saya ingat betul betapa salah satu penulis produktif di koran tersebut, Pak Usep Romli namanya (mudah2an tidak salah eja), sampai-sampai kesannya membuatkan ini menjadi masalah etnis dan agama. Berkebetulan beliau memang pakar dalam bidang budaya dan agama di Jawa Barat; dan kita umum ketahui etnis lain tersebut dominan beda agama dengan mayoritasnya etnis yang "tidak lain"-nya ini hehe. Tentu ada usaha dari eksponen lain untuk menutup-nutupi ini agar konflik tidak makin menganga; terlebih mereka hidup di dunia kesenimanan yang sudah selayaknya lebih punya vitalitas keuniversalan.

Sebetulnya masalah ini walau berusaha dipendam demi perdamaian dan lancarnya ekonomi, tetapi ia tidaklah terselesaikan dan tetap melaten. Terlepas dari soal2 personal antara Ucok dengan profesor seni tersebut di dalam dinding kantor mereka (Yusuf kalau tidak salah nama bapak itu, guru besar di Fakultas Seni Rupa ITB), masalah politik kantor ini kita semua sudah maklum sama maklum adanya. Cuma ia akan jadi bahaya besar ketika sebuah kompetisi, atau katakanlah persaingan "hewani" antar individu atau grup-grup kecil ini, dibawa meluas ke komunitas in-group masing2 yang lebih besar, seperti etnis kesukuan hingga agama (SARA). Dalam konteks migrasi aktor2 ekonomi antar daerah, kita bisa memahami bahwa kesuksesan hidup secara materiil yang diraih para perantau sangat berpotensi memantik kebencian dari pribumi asli yang mungkin merasa banyak yang hidup susah di kalangan mereka.

Dan ini bisa terjadi dimana-mana, bukan hanya Jawa Barat saja. Di Ketapang kalau ndak salah, di Kalimantan dulu suku Dayak dan Madura saling bunuh karenanya. Perang agama seperti di Ambon dan Poso juga pasti menyinggung faktor ekonomi dan etnis juga karena sudah habitatnya manusia untuk iri hati melihat orang yang lebih sukses (duniawi/harta benda) dibanding dirinya. Kesadaran-kesadaran ini mungkin terpendam secara person per person untuk sekian lama lalu ketika bertemu trigger-nya akan jadi kemarahan kolektif yang luar biasa amuknya. Kalau dalam bahasanya penyair Bandung Beni Setia kalau ndak salah begini saya ingat bunyi sajaknya: "kaji cara laut menimbun kesal" (konteksnya mungkin tsunami). Dan potensi konflik seperti ini terjadi di seluruh dunia, bahkan dimanfaatkan Amerika untuk menghidupkan mesin ekonomi dalam negerinya hehe.

Apa yang terjadi pada saudara ngehok, sebetulnya juga kurang lebih ranahnya ini. Subtansi masalahnya bukan lagi soal agama. Apalagi manusia-manusia buih atau aktor ikut-ikutan yang meramaikan konstalasi politik itu pun kebanyakannya dia sendiri juga minimalis pengetahuan agamanya alias sekedar nebeng supaya juga kebagian iming-iming syurga (oportunis mode on). Dominasi ekonomi warga keturunan--yang konon dibesarkan/dipelihara oleh kebutuhan kebijakan penguasa pada zaman Orde Baru hingga Orde Paling Baru--bisa menjadi motif terkuat bagi pribumi untuk meruntuhkannya, melepaskan tekanan hidup mereka di rumahnya sendiri (walau teori tentang suku pribumi ini bisa debatable juga karena, kecuali homo erectus dan sapiens, konon semuanya toh pendatang juga, baik gelombang awal yang disebut proto melayu tua, muda, dan seterusnya). Berkebetulan antara pribumi dan warga negara keturunan ini secara garis besarnya terkotak-kotak persis pula ke dalam label agama.

Padahal Ahok atau Basuki Cahaya Purnama ini termasuk penderita "kelainan": (sok) mau tahu tentang ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah komunitasnya yang fokus dan hanya mau tahu pada masalah perduitan saja. Wajar makanya jika (mohon maaf kalau bentuk kata sambung antar kalimat begini belum dibakukan oleh EYD) Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo yang mendapat baret kehormatan Kopassus dengan tes reguler ini ketika berpidato di acara natal bersama 2017 saat mengutip ayat-ayat dari injil memohon agar dirinya jangan "diahokkan" kalau ada salah-salah kata hehe. Memang soal otoritas keagamaan di negara kita ini sedang mengalami turbulensi besar, merujuk pula kepada kenyataan bahwa komunitas umat Islam internasional sedang digoncang pertikaian tafsir hingga perang bunuh-bebunuhan di semenanjung arabian sana. Tidak tanggung-tanggung, ulama sangat kolot jaman baheula seperti Syaikh (aduh lupa namanya, yang bermukim di Damaskus) yang sudah sangat tua dan se-angkatan dengan almarhum Al-Bani itupun harus lewat bom juga matinya. Tapi itulah, mau tak mau tafsir-tafsir ini tetap dibutuhkan karena menolak memberi tafsirpun adalah sebuah tafsiran sebagaimana tidak berpendapat merupakan sebuah pendapat tersendiri juga. Lho koq gw jadi bicara agama-agamaan!

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...